Rabu, 26 September 2012

Pria Ini Berhasil Cegah Perang Dunia III



Pada Oktober 1962, dunia di ambang kehancuran, karena memanasnya hubungan AS dan Rusia berpotensi besar memicu Perang Dunia 3. Namun, pria ini berhasil menghentikannya.

Sebuah dokumenter yang dipublikasikan pada Selasa (25/9/2012) ini menyatakan, tindakan seorang pria menyelamatkan bumi dari perang nuklir. Ia adalah Vasili Arkhipov, awak kapal selam Rusia, yang meski jadi pahlawan tapi meninggal dunia dipermalukan dan diasingkan.





 





Kisahnya dimulai pada 1960-an, di tengah kekhawatiran Perang Dingin, saat hubungan Washington dan Moskow benar-benar rusak. Di Amerika, rakyat mulai mengumpulkan ransum dan membangun bunker antibom di kebun mereka.




Ketegangan meningkat karena terjadi revolusi di Kuba. Rusia pun memiliki sekutu komunis yang bisa membantu menggempur Amerika. Rudal-rudal ki Kuba sudah diarahkan ke Amerika, meratakan Washington dan New York dalam waktu 10 menit.

Satu-satunya hal yang menghentikan mereka dari saling serang ketika itu adalah kebijakan yang menyatakan serangan boleh dilakukan jika satu pihak terbukti merusak teritori pihak lainnya.

Satu torpedo saja diluncurkan, maka lainnya akan membalas dengan hal yang sama. Tentunya, hal ini akan memicu serangan-serangan yang amat menghancurkan. Apalagi melibatkan nuklir, umat manusia bisa saja punah ketika itu.

“Semua pihak mengantungi nuklir. Satu saja serangan, perang nuklir terjadi,” ujar Direktur Arsip Keamanan Nasional AS, Thomas Blanton.

Di tengah atmosfer saling curiga dan takut ini, empat kapal selam Rusia diam-diam diberangkatkan dari Rusia. Hanya pejabat penting di kapal selam saja yang tahu mereka membawa torpedo berhulu ledak nuklir.

Kekuatannya besar, setara bom atom Amerika yang dijatuhkan ke Kota Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 lalu. Kapal selam ini berangkat menuju Kuba. Mereka dikawal helikopter, jet tempur dan kapal perang.

Amerika pun memburu mereka, bak permainan tikus dan kucing. Tak lama, Amerika menemukan kapal-kapal selam itu. Kapal selam yang ditumpangi Arkhipov, B59, ikut terpaksa menyelam, bersembunyi dari pantauan Amerika.

Saat itulah kondisi memburuk karena mereka harus bertahan di bawah air selama sepekan, dalam suhu dan kelembaban tinggi, serta air minum yang dibatasi satu gelas per hari. Di atas permukaan, Amerika memang sengaja menanti kapal-kapal selam ini menyerah.

Tak ada yang tahu, kapal selam itu membawa senjata maut. Amerika terus menunggu awak kapal selam yang kepanasan dan kehausan, menyerah. Tak sabar, Amerika menjatuhkan granat peringatan ke laut, yang oleh Rusia disangka serangan.








Valentin Savitsky, kapten B59, yakin perang nuklir sudah dimulai. Ia memerintahkan peluncuran torpedo nuklir untuk menyelamatkan kehormatan Rusia. Dalam kondisi normal, sudah pasti perintah ini segera dijalankan dan kedua negara bakal berperang.

Namun, Savitsky tak memperhitungkan Arkhipov, yang memiliki hak veto penggunaan torpedo nuklir. Arkhipov bersikeras mereka tak boleh menembakkan senjata itu dan harus menyerah kepada Amerika.

Langkah memalukan bagi Rusia, namun menyelamatkan seluruh dunia. Begitu muncul di permukaan, kapal-kapal selam itu hanya disuruh pulang ke Rusia. Arkhipov yang tak sadar dirinya pahlawan dunia, dipermalukan di negaranya.

Bertahun-tahun kemudian baru apa yang sebenarnya terjadi di dalam B59 diketahui publik. Sayang, saat itu Arkhipov sudah meninggal dunia. Bagi Olga, jandanya, Arkhipov adalah seorang pahlawan.

“Dari kapal selamnya, ia mencegah pecahnya perang nuklir. Saat itu saya bangga, dan saya akan selalu bangga dengan suami saya,” ujarnya. Kisah Arkhipov akan ditayangkan dalam dokumenter bertajukThe Man Who Stopped World War III: Revealed. [ast]








 

vasili-arkhipov.jpg
VASILY ARKHIPOV
Averted war: Vasili Arkhipoy (pictured left, and right aboard a submarine), saved the world by single-handedly averting World War Three with one decision 50 years ago, yet he died humiliated, outcast and an unknown

Man Who Saved the World. Vasili and wife Olga in 1957
Man Who Saved the World Vasili with his daughter Yelena three years before he died
Remembered: Arkhipov is pictured left with his wife Olga in 1957, and right with his daughter Yelena, three years before he died in 1998
Tense: For 13 days during the Cuban Missile Crisis in October 1962, the world held its breath as the USSR and the U.S. stood on the brink of nuclear war
Tense: For 13 days during the Cuban Missile Crisis in October 1962, the world held its breath as the USSR and the U.S. stood on the brink of nuclear war

Mr President: John F. Kennedy was in office in the U.S. between 1961 and 1963, at the height of the crisis
Mr President: John F. Kennedy was in office in the U.S. between 1961 and 1963, at the height of the crisis
Tense: The documentary recreated the dramatic moment when Soviet sailors decided not to fire the weapon
Tense: The documentary recreated the dramatic moment when Soviet sailors decided not to fire the weapon

'Close friend': Ryurik Ketov, commander of Sub B-4, said Arkhipov was 'cool-headed' and 'in control'
'Close friend': Ryurik Ketov, commander of Sub B-4, said Arkhipov was 'cool-headed' and 'in control'
Memories: Viktor Mikhailov, junior navigator on Sub B-59, said they had a 'special weapon' on board, which was not even referred to as a 'nuclear weapon'
Memories: Viktor Mikhailov, junior navigator on Sub B-59, said they had a 'special weapon' on board, which was not even referred to as a 'nuclear weapon'

Covert mission: In a game of high stakes cat and mouse it wasn't long before the Russian's were spotted
Covert mission: In a game of high stakes cat and mouse it wasn't long before the Russian's were spotted
Proud: Arkopov's widow Olga said: 'I was proud and I am proud of my husband, always'widow Olga said: 'I was proud and I am proud of my husband, always.'
Proud: Arkopov's widow Olga said: 'I was proud and I am proud of my husband, always'

sumber :http://web.inilah.com/read/detail/1909012/pria-ini-berhasil-cegah-perang-dunia-iii
www.terbaruteraktual.blogspot.com