Jumat, 10 Agustus 2012

Tolak Kenaikan Pajak dengan Membawa Panci

[imagetag]

Sekitar 200 ibu-ibu rumah tangga memadati sepanjang jalan pusat perbelanjaan di tengah kota Tokyo. Mereka memukuli panci dengan centong dan meneriakkan slogan yang mengritik rencana pemerintah untuk melipatgandakan 5% pajak konsumsi Jepang.

"Orang biasa seperti kami punya uang terbatas untuk dipakai setiap bulan. (Jika pajak konsumsi naik) 99% masyarakat harus memangkas apa yang biasa mereka beli," kata salah satu demonstran Natsuyo Makabe, dikutip dari Business Week (10/8/2012). Makabe turut dalam tiga demonstrasi di bulan Juni yang menentang kenaikan pajak, penggunaan energi nuklir dan pakta perdagangan bebas.

Demonstran bercelemek ini menentang kenaikan pajak karena akan makin mengimpit anggaran rumah tangga, seiring dengan ekonomi yang tidak mampu menahan turunnya jumlah konsumsi. Menurut Daiichi Life Research Institute, kenaikan ini akan membebani sebuah keluarga beranggotakan empat orang rata-rata tambahan 119.369 yen (Rp 14 juta) per tahun. "Kita tidak akan punya uang sisa untuk ditabung," kata Makabe.

RUU kenaikan pajak ini sudah mendapat persetujuan dari dewan bawah parlemen Jepang dan Noda berencana membawanya ke dewan atas hari ini. Rencana Noda adalah menaikkan pajak penjualan jadi 8% pada 2014 dan 10% pada 2015.

Demonstran mengatakan ini bukan waktu yang tidak tepat bagi Perdana Menteri Yoshihiko Noda untuk meredam utang publik yang akan mencapai 230% dari output nasional tahun ini, terbesar dibanding negara mana pun

Dihitung-hitung, tanggungan utang Jepang mencapai US$ 93.000 (Rp 883,5 juta) per orang. Sementara AS dan Yunani US$ 33.000 (Rp 313,5 juta). Utang Jepang menggelembung karena populasinya terus menua dan berkurang. Hanya 2,4% warga Jepang usia kerja menyokong satu warga manula saat ini, dibandingkan dengan 9,1% pada 1965.

Jika isu pajak ini sampai salah langkah, Noda akan mencekik konsumsi, mengurangi pendapatan pajak dan tetap tidak berhasil mengeluarkan Jepang dari tumpukan utang. Jika kenaikan pajak dibatalkan, masalah utang tetap tak terselesaikan.

Tetap saja, obligasi Jepang tidak pernah sepopuler ini. Bom waktu fiskal yang terus berjalan tertutupi oleh huru hara dari krisis Eropa. Hal ini menyebabkan Jepang jadi surga bagi para investor obligasi. Kepemilikan asing terhadap obligasi pemerintah Jepang tahun lalu memecahkan rekor ketika melesat jadi 8,3%.

Imbal obligasi 10 tahun Jepang jatuh separuh poin dasar jadi 0,795% hari ini di Tokyo, setelah bulan lalu anjlok ke level 0,72% atau yang terendah sejak 2003. Menurut manajer portfolio di JPMorgan Asset Management Jaoan, Genji Tsukatani, surplus rekening Jepang saat ini berarti mereka tidak bergantung pada investor asing untuk menggenjot isu obligasinya. "Resiko default Jepang itu kecil."

Sementara Takeshi Fujimaki, mantan penasehat investor George Soros tidak sependapat. Dia memperingatkan bahwa pasar obligasi lokal adalah gelembung yang bisa meletus pada lima tahun ke depan. "Saya tidak terkejut kalau default sampai terjadi besok."

Sumber: bimapedia.com