Rabu, 08 Agustus 2012

Parodi Klinik Tong Fang

[imagetag]

"Dulu saya lucu, setelah saya lewat depannya Klinik Tong Fang maka saya tidak lucu lagi. Terima kasih Klinik Tong Fang :) | Cara Gila Tanpa Solusi..|"

Demikian bio dari akun Twitter @tongfangparodi yang kini digandrungi oleh para tweeps, sebutan pengguna situs mikroblogging tersebut. Akun parodi dari iklan klinik pengobatan tradisional di televisi itu kini mempunyai pengikut sekitar 132 ribu, jumlah yang tidak sedikit untuk bisa membuat heboh jagat Twitter dengan kicauan-kicauan konyol bernada serupa.

Tak hanya di dunia maya, ungkapan-ungkapan sejenis juga ramai dalam perbincangan anak-anak muda di ruang-ruang publik. Mereka mengucapkan kekonyolan-kekonyolan dengan pattern seperti itu hanya untuk kemudian tertawa bersama-sama.

"Dulu pacar saya suka selingkuh sama cowok, setelah berobat ke Klinik Tong Fang pacar saya selingkuh sama cowok sekaligus cewek. Terimakasih Tong Fang," kata Alfri yang disambut tawa oleh rekan-rekannya di sebuah kafe bilangan Jakarta Selatan, semalam.

Pengamat komunikasi pemasaran dari Inventure, Yuswohady menilai, fenomena parodi Tong Fang di internet merupakan bentuk sentimen para pengguna Twitter terhadap iklan besar-besaran di televisi yang menurut mereka tidak genuine. Masyarakat, terlebih pengguna internet, menurutnya, sudah cerdas melihat sesuatu yang tidak orisinil dalam testimoni kesembuhan pasien pada iklan.

"Netizen sudah muak pada pendekatan komunikasi yang tidak genuine. Terlebih tampilan iklan itu di televisi terkesan agak lawas," kata Yuswohady saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (7/8).

Hady melanjutkan 'pelampiasan' masyarakat lewat Twitter lebih dikarenakan iklan tersebut ditampilkan dalam televisi, yang merupakan media satu arah (one-way). Akan berbeda jika konten iklan dimuat dalam media dua arah (two-way), seperti internet.

"Iklan-iklan itu pasti akan dihabisi oleh komentar-komentar," ujar dia.

Twitter, kata dia, merupakan jalan keluar bagi pelampiasan sentimen masyarakat yang tidak bisa diakomodir televisi.

"Ini menunjukkan masyarakat (kelas menengah) sudah powerful," tambahnya.

Meski demikian, lanjut Hady, parodi ini bukan berarti berdampak buruk bagi brand Klinik Tong Fang. Menurutnya, parodi di Twitter dan pergunjingan di ruang-ruang publik lainnya, justru telah menyebarkan awareness di masyarakat tentang produk Klinik Tong Fang.

"Dengan word of mouth orang jadi tahu ada klinik pengobatan yang namanya Tong Fang, dan untuk membangun awareness ini biasanya sebuah brand bisa habis miliaran bahkan triliunan. Makanya ini seperti blessing in disguise," papar dia.

Namun demikian, lanjut Hady, agar bisa benar-benar menjadi 'berkah yang tersembunyi', awareness ini harus diperbaiki di tingkat asosiasi merek (brand association). Pesan terkait Tong Fang yang cuma sekadar 'guyon' di Twitter harus diperbaiki demi membangun brand association yang positif tentang produk tersebut.

"Caranya ya dengan program komunikasi yang mengena, misalnya iklan diganti biar tidak jadul, kemudian brand ambassador yang tepat," ujar dia.

Hady melanjutkan, pembangunan asosiasi positif bagi produk masih bisa dilakukan karena parodi di Twitter hanya guyonan yang tidak menyerang nilai produk (product value).

"Parodi di Twitter kan tidak bilang bahwa pengobatan Tong Fang bohong, bahwa 'keluarga saya tidak sembuh meski sudah berobat'. Bukan itu. Ini kan hanya iseng. Jadi brand association-nya masih bisa diluruskan," lanjut Hady.

Jika Klinik Tong Fang justru bisa melakukan strategi komunikasi itu, barangkali ini akan menjadi kejadian langka dalam dunia pemasaran tanah air. Parodi di Twitter justru bisa membawa berkah, bukan sekadar 'cara gila tanpa solusi.

Sumber: bimapedia.com