Selasa, 14 Agustus 2012

Mempercayai Hari Na'as




Hingga sekarang, banyak sekali masyarakat muslim Indonesia yang masih percaya dengan berbagai hitungan ghaib. Terutama dengan hari-hari na'as, yaitu hari-hari tertentu yang dianggap dapat mendatangkan kesialan. Misalkan hari yang jika ia berdagang maka dagangannya tidak laku, atau hari yang menyebabkan kecelakaan jika berpergian dan lain sebagainya.

Hal ini tidak dibenarkan dalam Islam, karena dianggap sebagai pola pikir orang Yahudi yang tidak pernah bertawakkal kepada Allah SWT. Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam al Fatawaal Haditsiyah.

مَنْ يَسْأَلْ عَنِ النَّحْسِ وَمَا بَعْدَهُ لإِيْجَابٍ إِلاَّ بِاْلإِعْرَاضِ عَنْهُ وَتَسْفِيْهِ مَا فَعَلَهُ وَيُبَيِّنُ لَهُ قُبْحَهُ وَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ سُنَّةِ الْيَهُوْدِ لاَ مِنْ هَدْيِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُتَوَكِّلِيْنَ عَلَى خَالِقِهِمْ وَبَارِئِهِمِ الَّذِيْنَ لاَ يَحْسَبُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ. وَمَا يُنْقَلُ مِنَ الأَيَّامِ الْمَنْقُوْطَةِ وَنَحْوِهَا عَنْ عَلِيِّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ بَاطِلٌ كَذِبٌ لاَ أَصْلَ لَهُ فَلْيَحْذَرْ مِنْ ذَلِكَ.

“Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Penciptanya, tidak berdasarkan hitung-hitungan dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa dari sahabat Ali kw. adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu”.[ al-Fatawaal Haditsiyah, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1390 H/1970 M), Cet. ke-2, h. 28.)


Sumber: Sekretariat PBNU, 2010. Ahkamul Fuqaha. Jakarta: PBNU