Rabu, 15 Agustus 2012

Gajah di Afrika Selatan Wajib Ikut Program KB

[imagetag]

OHANNESBURG -Gajah-gajah di Afrika Selatan bakal wajib masuk KB alias Keluarga Berencana berkaitan dengan populasi mereka yang meningkat cepat. Pengendalian angka kelahiran gajah ini harus dilakukan, karena populasi mereka sudah mengancam perkebunan, pepohonan dan kehidupan liar lainnya.
Tidak seperti di kawasan Afrika lainnya di mana populasi gajah terus merosot akibat perburuan liar dan hilangnya lingkungan pendukung hidup gajah, di Afrika Selatan justru populasi gajah terus meningkat terutama di kawasan konservasi. Karenanya, tingkat kelahiran gajah harus dikontrol.
Seperti dilaporkan kantor berita Reuters, hari rabu (15/8/2012), Provinsi KwaZulu-Natal, di tenggara Afrika Selatan, akan melanjutkan proyek yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade di mana populasi gajah dikontrol dengan suntikan vaksin yang akan mendorong sistem imun yang akan memblok sperma dari gajah jantan.
"Memperlambat tingkat pertumbuhan gajah akan memungkinkan untuk meraih biodiversity lain seperti perluasan lahan tanpa harus menyisihkan gajah-gajah tadi," ujar Catherine Hanekom, ekologis dari kawasan konservasi Ezemvelo KZN.
Afrika Selatan hanya memiliki sekitar 100 gajah hampir satu dekade lalu, namun kini jumlah gajah sudah mencapai 20.000 gajah.
Peningkatan populasi gajah ini bahkan lebih menakutkan di Botswana di mana ada sedikitnya 133.000 gajah. Negara tetangga Afrika Selatan ini nyaris kehilangan pepohonan dan tanaman karena dikonsumsi dan dirusak gajah.
Dengan populasi manusia sekitar 2 juta orang di Afrika Selatan, maka perbandingan gajah dan manusia seharusnya paling tinggi satu gajah berbanding 14 manusia.
Sementara itu seekor gajah dewasa menghabiskan 100 sampai 130 kilogram makanan berupa daun dan sebagainya. Membuat pepohanan sirna dengan cepat.
Populasi gajah yang berlebihan akan mengancam pasokan makanan dan lahan bagi manusia. Karenanya, gajah di Afrika Selatan harus masuk program keluarga berencana yakni dengan membatasi tingkat kelahirannya.

Sumber