Minggu, 08 Juli 2012

Teknik Budidaya Ikan Hias Neon tetra (Paracheirodon innesi)

Teknik Budidaya Ikan Hias Neon tetra (Paracheirodon innesi) PDF Print E-mail
Neon tetra merupakan jenis ikan hias yang ukuran tubuhnya kecil, dimana ukuran induknya tidak lebih dari 4 cm. Ikan ini dapat kawin pada saat berumur 6 bulan. Neon tetra merupakan salah satu komoditas ekspor yang banyak diminati oleh negara lain.
  1. Pemilihan Induk Untuk membedakan induk jantan dan betina yang telah siap untuk dipijahkan dapat dilihat dari bentuk tubuhnya. Induk jantan memiliki tubuh ramping, garis warna neon lurus dan gerakannya lebih lincah dibandingkan ikan betina. Sedangkan ikan betina memiliki ukuran tubuh yang lebih pendek, bagian perut gemuk, dan garis warna neon bengkok.
  2. Pemijahan
  • Persiapan Pemijahan
Wadah yang dipergunakan untuk pemijahan berupa akuarium kecil berukuran 20 x 20 x 20 cm. Akuarium yang telah tersedia, dicuci terlebih dahulu dengan larutan PK untuk menghilangkan hama penyakit. Akuarium sebaiknya ditempatkan pada tempat yang gelap karena neon tetra tidak menyukai situasi terang. Air yang digunakan untuk pemijahan memiliki parameter kualitas air : pH ± 6, O2 terlarut sekitar 6 ppm dan suhu 22 – 24 0C. Di dalam akuarium pemijahan diletakkan tanaman air seperti eceng gondok atau hydrilla sebagai tempat menempel telur.
  • Proses Pemijahan
Setelah wadah pemijahan siap, sepasang induk yang telah siap memijah dimasukkan ke dalam akuarium. Apabila kedua induk telah menyatu, semua bagian akuarium ditutup dengan plastik atau kertas hitam agar tidak ada sinar yang masuk. Selama pemijahan berlangsung induk tetap boleh diberi pakan berupa jentik nyamuk. Induk akan mulai memijah pada malam hari dan berlangsung selama 3 - 4 jam. Setelah pemijahan selesai, induk segera diangkat dan ditempatkan di akuarium lainnya.
  • Merawat Telur dan Larva
Setelah telur menempel di tanaman air, telur diupayakan tidak terkena sinar sedikitpun karena telur neon tetra sensitif terhadap sinar. Telur yang terkena sinar akan mati dan tidak menetas. Telur akan menetas setelah 24 jam dikeluarkan oleh ikan. Untuk menghindari serangan jamur atau penyakit lainnya, media pemeliharaan larva diberi antibiotik berupa Malachite Green Oxalate (MGO) sebanyak 0,01 mg/lt air atau Methylene Blue (MB) sebanyak 1 tetes untuk 5 liter air. Larva ikan yang baru menetas dibiarkan hingga telur menetas secara keseluruhan. Larva tidak perlu diberi pakan karena masih memiliki cadangan makanan dari kuning telurnya. Setelah berumur 3 hari larva diberi pakan alami berupa rotifera atau nauphli artemia.
  • Merawat Anak Ikan
Setelah berumur 7-10 hari, larva dapat dipindahkan ke akuarium yang lebih besar. Ukuran akuarium untuk perawatan larva adalah 100 x 50 x 40 cm. Apabila jumlah ikan terlalu banyak dapat juga digunakan bak tembok yang terlindung dari air hujan dan sinar matahari. Pakan yang diberikan berupa kutu air atau cacing rambut (tubifex) dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali dalam sehari. Penggantian air pemeliharaan dilakukan setiap 5 – 7 hari sekali dengan cara disipon. Ikan dipelihara selama 25 hari sampai mencapai ukuran 1 cm.
sumber : http://www.djpb.kkp.go.id