Sabtu, 07 Juli 2012

Sia-Siakah Hidup Kita?


Al-Quran yang mulia mengatakan bahwa semua manusia akan menjalani beberapa alam kehidupan.
Adapun alam kehidupan manusia yg pertama kali adalah alam roh. Di alam inilah Allah swt menciptakan roh manusia dengan warna putih bersih.
Kemudian selanjutnya manusia akan memasuki alam kehidupan yg ke dua, yaitu setelah rohnya itu ditiupkan Allah ke dalam rahim seorang ibu. Alam ini disebut juga sebagai alam janin.
Setelah cukup waktunya berada di alam janin, maka manusia akan lahir ke alam kehidupan yang ke tiga, yaitu alam dunia. Di alam dunia ini barulah manusia mengemban tugas dari Allah, yaitu mentaati “ATURAN MAIN” yang dibuat olehNya dan oleh RasulNya.

Bila manusia sering membangkang dengan tidak melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Allah, maka rohnya yang semula berwarna putih bersih itu dapat menjadi keruh, bahkan bukan tidak mungkin pula menjadi hitam.

Rasulullah saw bersabda:
“Hati manusia pertama kalinya adalah seperti cermin, bersih dan cemerlang. Ketika ia berbuat dosa, satu bintik hitam muncul, dan semakin banyak ia berbuat dosa, semakin banyak bintik hitam, sampai seluruh hatinya menjadi hitam, dan akhirnya tidak ada satu pagi atau satu malampun yang berlalu tanpa berbuat dosa” (HR. Al-Baihaqi)

Hudzaifah ra. mengatakan, Rasulullah saw. bersabda:
Ujian fitnah itu selalu ditawarkan ke dalam hati manusia, satu persatu bagaikan daun tikar sehelai demi sehelai, maka yang mana yang termakan oleh hati, maka akan berbintik hitam di dalamnya, dan tiap hati yang menolaknya berbintik putih, sehingga ada dua bentuk hati, yang putih bagaikan marmer putih yang berkilau, yang tidak terpengaruh oleh fitnah yang bagai­manapun juga selama adanya langit dan bumi, se­dang yang kedua hitam kelam bagaikan dandang (periuk untuk menanak nasi) yang terbalik tidak mengenal ma'ruf dan tidak menolak mungkar.

Abu Hurairah ra. mengatakan, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa akan berbintik hitam dalam hatinya, kemudian jika ia tobat dan menghen­tikan dosa itu, kembali bersih mengkilat hatinya, tetapi bila ia menambahnya, maka bertambah bintik hitamnya sehing­ga menutupi hatinya” maka itulah yang dinamakan Ar-raan yang tersebut dalam ayat: Kallaa bal raana alaa quluubihim maa kaanu yaksibun = Sekali-kali tidak demikian sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu akan menutup hati mereka (Qs. Al-Muthaffifiin 83:14)
(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah).

Dalam hadits dan ayat ini secara tegas Allah menyatakan bahwa dosa itu jika terus menerus dilakukan akan menutup hati, dan jika telah diliputi oleh dosa yang sedemikian Allah akan menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka sehingga tidak ada jalan untuk beriman dan tidak dapat terle­pas dari kekafirannya. Maka itulah yg disebut 'Khatamallahu alaa quluubihim wa alaa sam'ihim' (Al-Baqarah:7)

Tetapi sebaliknya bila manusia selalu menghindarkan diri dari perbuatan2 yang dilarangNya, maka rohnya akan tetap berwarna putih bersih. Dan bila manusia ini disamping menghindarkan diri dari perbuatan2 yang dilarangNya, ia juga taat melaksanakan segala perintah2Nya, maka rohnya akan berwarna putih bersih berkilau!

Kemudian setelah masa penugasan berakhir, yaitu saat manusia itu mati, maka manusia akan hidup di alam kehidupan yang ke empat, yaitu alam kubur atau alam barzah. Disinilah semua manusia menunggu komando dari malaikat Isrofil untuk kembali ke alam asalnya semula, yaitu menghadap Allah swt untuk mempertanggung jawabkan sampai sejauh mana ketaatannya dalam melaksanakan tugas yg diamanahkanNya itu.

Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah menegaskan hal ini :
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”
(Qs. Al-Qiyamah 75:36)

Salah seorang sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khatab ra. berkata,
“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah dirimu sebelum ditimbang”

Marilah kita renungkan dengan hati yg jernih bagaimana kira2 perbedaan antara warna roh kita ketika pertama kali diciptakan Allah. Bila warna roh kita pada waktu kembali itu tetap putih yaitu sama seperti pada saat pertama kali diciptakan Allah, ini berarti bahwa sia-sia saja kita diterjunkan ke alam dunia ini, apalagi kalau sampai berwarna hitam! Seharusnya kita kembali bukan dengan warna roh yang putih sebagaimana pertama kali diciptakan Allah, tetapi kita harus kembali dengan warna putih yang berkilau. Dan untuk membuat jiwa kita berkilau, tidak ada cara lain selain berjihad melawan nafsu agar kita selalu dapat taat pada perintahNya serta menjauhi segala laranganNya.

Mengenai hal ini ingin saya sampaikan sebuah analogi. Katakanlah ada seorang pengemis di kota Bandung memutuskan pindah ke Jakarta untuk merubah nasibnya. Bila sepuluh tahun kemudian ia pulang kampung kembali ke Bandung masih sebagai pengemis juga, tentu orang akan memandangnya sia2 saja perantauannya ke Jakarta. Demikian juga kita, bila warna roh kita saat kembali ke alam asal kita nanti berwarna putih seperti pada waktu pertama kali diciptakan Allah, apakah ini tidak berarti sia2 saja keberadaan kita di dunia, yaitu sama halnya dengan pengemis dari Bandung tadi yg sia2 saja datang ke Jakarta? Apalagi bila kita kembali ke alam asal kita nanti dengan warna hitam, tentu bukan hanya sia2, tetapi jelas ini adalah sangat konyol. Manusia yang bijak tentu akan berusaha pulang ke kampong asalnya sebagai perantau yg berhasil, yaitu dengan warna putih bersih dan berkilau!

Semoga renungan ini dapat mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kesucian jiwa sekaligus mengkilaukan jiwa sehingga keberadaan kita di alam dunia ini tidaklah sia-sia. Mari kita hidupkan semangat jihad untuk memerangi nafsu dan setan yang selalu mengajak kita mengingkari perintah-perintah Allah dan RasulNya.
Tanamkanlah dalam jiwa kita nasihat Rasulullah yang mulia,
“Sabar dari menahan nafsu itu berat, tetapi menahan siksa api neraka itu jauh lebih berat dari menahan nafsu”.


http://nurisfm.blogspot.com