Selasa, 31 Juli 2012

Risalah Al-Mu’awanah : Kiat Menjaga Shalat


Hendaknya engkau senantiasa bersegera mempersiapkan diri mengerjakan shalat pada awal waktu dengan kira-kira muadzdzin belum mengumandangkan adzan pada tiap-tiap shalat fardhu. kecuali apabila engkau sudah dalam keadaan berwudhu dan engkau telah hadir di masjid. 

Jika engkau tidak bisa melakukan hal yang demikian, maka janganlah kurang daripada bersiap mengerjakan shalat ketika mendengar suara adzan. Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam telah bersabda :

فضل أول الوقت على آخره كفضل الأخرى على الدنيا 


“Keutamaan awal waktu dibanding dengan akhir waktu, seperti keutamaan akhirat atas dunia”.

Dan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam juga telah bersabda : 

الصلاة أول الوقت رضوان الله وآخر الوقت العفو 
 “Awal waktu adalah keridhaan Allah, dan akhir waktu adalah ampunan-Allah”

Dan hendaknya engkau selalu menjaga sunnah-sunnah ratibiyah (rutin) yang telah ditunjuki oleh syara’ sebelum shalat maktubah dan sesudah shalat maktubah, dan takutlah engkau bermalas-malasan (meremehkan) sunnah-sunnah ratibah dengan cara meninggalkannya. 

Dan jika engkau mengalami udzur (tidak bisa mengerjakannya) maka bersegeralah untuk mengqadha. [1]

Dan hendaknya engkau khusu’ dalam shalatmu, menghadirkan hati, memperbagus sikap berdirin, tartil dalam bacaan, menyempurnakan ruku’ dan sujud, serta rukun-rukun lainnya didalam shalat. Dan juga menjaga sunah-sunah shalat serta adab-adab shalat sebagaimana diterangkan dalam syari’at dalam menerapkannya didalam shalat. Hendaknya engkau juga menjaga diri dari sesuatu mengurangi shalat atau merusak kesempurnaan shalat.

Maka sesungguhnya jika engkau dapat melakukan hal yang demikian, maka akan keluar shalatmu dari dirimu laksana putih yang bercahaya seraya berkata :

حفظك الله كماحفظتني
“Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjagaku”

Namun jika tidak, maka shalatmu akan keluar laksana warna hitam yang gelap seraya berkata :

ضيعك الله كما ضيعنتي
“Semoga Allah menyia-nyiakan dirimu sebagaimana engkau menyia-nyiakan diriku”.

Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam telah bersabda :

ليس للمرء من صلاته الا ما عقل منها
“Tidaklah bagi seseorang dari shalatnya, kecuali hanya apa yang ia pikirkan dari shalatnya”. [2]

Seorang tabi’in bernama Hasan Al-Bashri juga pernah berkata 

كل صلاةٍ لا يَحضُر فيها القلب فهي إلى العقوبة أسرع


“Setiap shalat yang hatinya tidak hadir dalam shalatnya, maka ia terhadap siksa akan lebih cepat”

Syaithan laknatullah sangat ingin untuk menyibukkan orang mukmin ketika shalat, sampai-sampai ketika seorang mukmin baru berdiri melakukan shalat, syaithan membukakan untuknya dan menjadikan ia ingat hal-hal yang terkait masalah dunia, padahal sebelum shalat tidak terpikirkan olehnya.

Dengan hal-hal yang seperti itu, maka akan menyibukkan seorang mukmin didalam shalatnya dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’laa dan mengganggu hadirnya hati didalam shalat. Oleh karena itu para ulama bagi orang yang shalat (mushalli) apabila hendak melakukan shalat dianjurkan membaca surah Al-Ikhlas

Hal itu untuk menjaga diri dari gangguan-ganguan syaithan yang terkutuk.

(Dan sebaiknya) tidak terus-terusan (rutin) atas hanya membaca satu surah yang khusus (tertentu) setelah membaca Al-Fatihah, kecuali apa yang memang warid dari syara’. Contohnya seperti Alif Lam Mim Al-Sajadah (surah al-Sajadah),dan Hal Ataa ‘alal Insaan (surah al-Insan) yang dibaca pada shubuh di hari Jum’at. [3]

Dan berhati-hatilah engkau terus-terusan (rutin) membaca surah-surah pendek pendek seperti al-Kafiruun, al-Ikhlas dan al-Mu’awwidatain (al-Naas dan al-Falaq). 

Namun, jika engkau menjadi seorang imam shalat, maka dianjurkan untuk meringankan bacaannya sebagaimana hadits Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anh, ketika ia menjadi imam pada sekelompok kaum, ia membaca surah-surah yang panjang, sehingga ada seorang dari makmum yang melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Maka Rasulullah berkata kepada Mu’adz “Apakah engkau membuat fitnah wahai Mu’adz ? Bacalah saja surah al-A’laa dan wa al-Syamsi wa- Dluhaha wal Laili Idza Yaghsyaha (al-Syams).

Dan barangsiapa yang pernah membaca kita-kitab atsar, niscaya ia akan tahu apa yang telah kami ungkapkan, dan sungguh telah diriwayatkan bahwa pada kesempatan lainnya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam shalat bersama umat Islam yaitu shalat Maghrib membaca surah Al-Mursalat. Dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.


Wallahu A'lam 

Note :
[1] Ketika kita tidak bisa / tidak sempat mengerjakan shalat sunnah qabliyah shalat karena sebab-sebab tertentu, maka boleh kita dikerjakan setelahnya. Namun ,itu belum dinamakan sebagai shalat sunnah Qadla’, akan tetapi tetap dinamakan sebagai Ada’. 

Yang dimaksud mengqadla’ disini adalah apabila waktu shalatnya sudah habis. Misalnya belum mengerjakan shalat sunnah qabliyah atau ba’diyah Dzuhur karena sebab tertentu, namun sudah masuk waktu Asar, maka boleh mengqadla’ shalat sunnah tersebut. Inilah yang dimaksud sebagai qadla’.

[2]. Didalam shalat, hanya berfikir terkait shalat saja seperti mentadabburi bacaan-nya dan lainnya. Jangan memikirkan hal-hal diluar shalat.

[3]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, 

أنه كان يقرأ في الفجر يوم الجمعة الم تنزيل وهل أتى


“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam ketika shalat Fajar (shubuh) pada hari Jum’at membaca Alif Lam Mim Tanzil (al-Sajadah) dan Hal Ataa (al-Insaan)”.