Sabtu, 28 Juli 2012

Pembantaian Muslim Rohingya, Aung San Suu Kyi Diam Membisu


 Aneka etnis tinggal di Myanmar. Pemerintah mengakui ada 135 etnis minoritas, tapi etnis Rohingya tidak masuk dalam daftar “ras nasional” yang diakui pemerintahan jenderal Ne Win pada 1982.


Berbagai perlakuan brutal dilakukan terhadap suku-suku minoritas oleh militer yang lebih dari setengah abad mengenggam keuasaan di Myanmar. Front pertempuran terbuka meletus di utara, timur dan barat laut Myanmar. Etnis Shan, Karen, Mon, Chin dan Kachin memiliki pasukan bersenjata mereka sendiri, selama beberapa dasa warsa. Yang ketakutan ya warga negara biasa yang bukan gerilyawan anti pemerintahan militer.

Petugas PBB Tomas Quintana telah bertemu orang Rohingya di Rakhine dan mendengar kisah pilu mereka. “Muslim Rohingya pasti dari Myanmar. Mereka telah tinggal di Myanmar dengan kelompok etnis lain selama berabad-abad,” tulis Quintana. “Pemerintah baru menghadapi banyak masalah dan kompleks, tapi penyebab diinjak-injaknya etnis Rohingya harus menjadi prioritas.”

Etnis Rohingya adalah etnis minoritas di Myanmar, jumlahnya sekitar 2 hingga 3 juta orang. Sebenarnya warga etnis Rohingya sudah lama mengalami tindak kekerasan dan diskriminasi dalam segala hal. Mereka dianggap orang asing atau kaum imigran ilegal dari Bengali (Bangladesh), meskipun mereka sudah turun temurun selama berabad-abad tinggal di Myanmar. Mereka tidak diakui sebagai warganegara Myanmar (stateless), itu karena warna kulit mereka berbeda dengan orang Myanmar umumnya. Etnis Rohingya berwarna kulit gelap dan secara fisik mirip seperti orang Bangladesh. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara bagian Arakan yang berbataan langsung dengan Bangladesh.

Warna kulit mungkin salah satu alasan mereka dianggap orang asing, alasan lain mungkin juga karena agama mereka Islam, yang berbeda dengan agama orang Myanmar umumnya, Budha. Karena agamanya itu, warga Myanmar menyamakan orang Rohingya sebagai teroris seperti organisasi Al-Qaidah dan Taliban.

Malangnya nasib orang Rohingya, tidak ada satupun pihak yang mau membela mereka, termasuk Aung San Suu Kyi sekalipun. Penerima nobel perdamaian itu diam membisu. Dia sama sekali tidak pernah berbicara tentang pembantaian etnis Rohingya, malah Aung San memilih sibuk berkeliling Eropa bagaikan selebriti. Hal ini sangat berbeda sikapnya ketika dia mengunjungi pengungsi suku Karen di perbatasan Thailand setelah kebebasannya. Suku Karen adalah sukunya Aung San Su Kyi, suku ini beragama Kristen, sama dengan agama Aung San. Kepada pengungsi suku Karen dia berjanji akan memperjuangkan nasib mereka. Namun, Aung San sama sekali tidak pernah mengunjungi pengungsi etnis Rohingya di perbatasan Bangladesh.

Pemerintah Indonesia harus berperan aktif mengusut pembantaian umat Islam Rohingya di Myanmar. Indonesia sebagai bagian dari ASEAN tidak boleh diam menyaksikan tragedi kemanusiaan di Myanmar. 


اَللَّهُمَّ اجْعَلِ التَــّمْكِينَ لَهُمْ
اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِمَنْ يُعَذِّبُوهُمْ اللَّهُمَّ خُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ


Ya Allah karuniakanlah kekuatan pada mereka
Ya Allah hukumlah orang orang yang menyiksa mereka, balaslah kebiadaban mereka, Wahai Allah Yang Maha Perkasa lagi Berkuasa



(berbagai sumber/sarkub.com)