Sabtu, 21 Juli 2012

Nikmatnya Mentadabburi Al-Qur'an

Mulai membaca juz 3 Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir. Banyak ilmu dan hikmah yang saya peroleh sehingga saya dapat mencatatnya. Begitu lezatnya membaca dan menulis bila hati dan pikiran ini bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.

Salah satu jenis buku yang saya senangi adalah tafsir Al-Qur'an. Hingga kini saya memiliki beberapa kitab tafsir mulai dari Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Jalalain, Fi zhilal, Al-Azhar, Tafsir Syaikh Muhammad Al-Ghazali, hingga tafsir ringkasnya Wahbah Zuhaili. Sebagian lengkap jilidnya, sebagian lagi masih nyicil belinya. Saya masih ingin memiliki kitab tafsir yang lain seperti Ath-Thabari dan Al-Asas-nya Said Hawwa. Mudah-mudahan kesampaian belinya. Amin

Mentadabburi kandungan Al-Qur'an terasa nikmat. Al-Qur'an tidak hanya memenuhi akal kita, tapi ia juga dapat memenuhi hati kita. Al-Qur'an menuntun kita dan memberi petunjuk kepada kita. Sungguh hebat mereka yang menguasai Al-Qur'an baik dari segi tajwidnya, hafalannya, nasikh dan mansukhnya, halal dan haramnya, asbabun nuzul-nya, dan ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya. Al-Qur’an itu luas tak bertepi dan kedalamannya hanya Dia yang mengetahui karena ia adalah kalam-Nya. Sudah berapa banyak orang menafsirkan Al-Qur'an di setiap zaman, seolah Al-Qur'an adalah mata air yang tak pernah kering untuk diambil manfaatnya.

Saya terkesan dengan perkataan Syaikh Abdullah Darraz, seorang ulama besar Mesir, yang mengatakan Al-Qur'an ibarat intan berlian, melihat dari sisi manapun, ia akan memancarkan kemilau. Oleh karena itu wahai kawan, sudahkah engkau membaca Al-Qur’an walau satu halaman atau sudahkah engkau mentadabburinya walau satu ayat?