Selasa, 03 Juli 2012

Menutup Aib Sesama Muslim





Ceramah Habib Sholeh Al Habsyi Jum’at kemarin (24-2-2012) menyatakan bahwa manusia itu sebetulnya penuh dgn aib. Seandainya kita tahu aib masing2, tentu kita tak akan mau menguburkan sesama Muslim.
Namun Allah memelihara sebagian besar aib kita sehingga tidak tampak. Allah juga memerintahkan kita untuk menutupi aib sesama Muslim dgn larangan Ghibah pada surat Al Hujuraat. Demikian pula RasulNya.
Oleh karena itu jika satu aib disebar-luaskan dan dijadikan hiburan, itu sangat memprihatinkan.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Alloh akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Alloh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Barang siapa amalnya lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya.” (Hadits dengan redaksi seperti ini diriwayatkan oleh Muslim)
Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)
Ada pun Ustad Dayat pada ceramah Minggu menyatakan seharusnya kita menjaga aurat para pemimpin dan ulama kita selama masalahnya masih Furu’iyah. Jangan sampai aib ulama dibongkar sehingga ummat tidak mau lagi mendengar ceramahnya. Ini merusak Dakwah Islam.
Sesungguhnya pemuka agama lain juga punya aib, namun mereka pandai menjaga aurat mereka sehingga tetap berwibawa.
Jika memberi nasehat, sebaiknya berikan secara langsung. Jangan di depan umum. Sebab jika di depan umum, itu namanya menghina. Menjatuhkan orang.
Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari, bahwa Nabi telah bersabda, “Agama (Islam) itu adalah nasehat.” (beliau mengulanginya tiga kali), Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.” [HR Bukhari-Muslim]
Lihat bagaimana Allah menutupi kesalahan orang-orang yang beriman. Sebab sebaik-baiknya orang, dia bukan Nabi yang maksum. Tetap punya kesalahan entah karena tak disengaja atau pun kejahilannya:
“Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah” [Al Fath 5]
Hendaknya kita mudah memaafkan kesalahan seseorang:
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ” [Ali 'Imran 134]
Lihat bagaimana Allah yang Maha Pengampun mengampuni kesalahan-kesalahan hambaNya:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” [Ali 'Imran 193]
 ”Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” [An Nahl 119]

www.sarkub.com