Minggu, 01 Juli 2012

Mempelajari Adab, Mengenal Keindahan Islam

Imam Ibnu Qasim salah satu murid senior Imam Malik menyatakan, "Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku mempelajari adab sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu." 

Muhammad bin Sirrin beliau berkata: “Mereka dulu (para sahabat)  mempelajari adab-adab sebagaimana mempelajari ilmu“.

Al-Imam Abu Abdillah Sufyan Ats-tsauri rahimahullah, beliau menceritakan kisah bagaimana di zaman Tabi’in dalam mempelajari adab menjadi hal yang utama. Sufyan Ats-tsauri mengatakan: “Mereka-mereka dulu (para Sahabat dan Tabi’in) tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk pergi menuntut ilmu, hingga anak-anaknya telah diajari adab-adab terlebih dahulu dan memperbanyak ibadah 20 th lamanya” 

Abdullah bin Mubarak rahimahullah beliau menceritakan tentang metode beliau menuntut ilmu -Abdullah bin Mubarak adalah seorang ulama yang mengumpulkan seluruh cabang ilmu- beliau berkata: “Saya mempelajari adab 30th dan saya menuntut ilmu 20th, dan mereka dulu (para Sahabat dan Tabi’in) mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu”.

Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.” 

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dari Al-Imam Malik bin Anas, beliau berkata: Berkata Ibnu Sirin: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) mempelajari al-huda (petunjuk tentang permasalahan adab dan yang sejenisnya) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” 

Dari Al-Imam Malik juga, dari Ibnu Syihab, beliau berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah adabnya Allah, yang telah Allah ajarkan kepada Nabi-Nya dan demikian juga telah diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya; amanatnya Allah kepada Rasul-Nya agar beliau melaksanakannya dengan semestinya. Maka barangsiapa yang mendengar ilmu maka jadikanlah ilmu tersebut di depannya, yang akan menjadi hujjah antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.” 

Dari Ibrahim bin Hubaib, beliau berkata: Berkata ayahku kepadaku: “Wahai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka serta ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai untukmu daripada memperbanyak hadits.” 

Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.” 

Hal ini dikarenakan kalau seseorang sibuk memperbanyak hadits dan menghafalnya akan tetapi tidak beradab dengan adab-adab yang telah dipraktekkan oleh para ulama niscaya ilmu tadi tidak akan bermanfaat. Akan tetapi orang yang belajar adab niscaya dia akan terus mencari tambahan ilmu dengan diamalkan dan diterapkan adab-adab yang telah dipelajarinya.

Dari Zakariyya Al-’Anbariy, beliau berkata: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.” 

Dari Malik bin Anas bahwasanya ibunya berkata kepadanya: “Pergilah ke Rabi’ah lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.” 

Komentar:
Subhanallah, para ulama kita sangat memperhatikan adab. Tidak mengherankan bila kita temukan dalam kitab-kitab mereka banyak membahas tentang adab. Sebagai contoh Kitab Riyadhus Shalihin banyak berisi hadits-hadits tentang adab. Seolah-olah mereka mengatakan bahwa adab itu Islam, barangsiapa tidak memperhatikan adab maka tidak mengenal keindahan Islam. 

Salah seorang pemikir besar Malaysia, Syed Naquib Al-Attas mengatakan bahwa kerusakan ilmu disebabkan karena tidak adanya adab dalam diri penuntutnya. Mempelajari ilmu tidak hanya sebatas mentransfer ilmu, tetapi juga harus memperhatikan adab; adab seorang murid kepada gurunya, adab guru kepada muridnya, adab kepada Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, adab kepada kedua orangtua, kepada kakak, kepada adik, dan seterusnya. 

Tidaklah heran bila orang-orang liberal itu bicara seenaknya sendiri, tidak peduli benar atau tidak, tidak peduli sesuai syariat atau tidak, tidak peduli dimarahi Tuhan atau tidak. Karena toh mereka tidak beradab. Ilmu bagi mereka sekedar memenuhi otak sementara hati mereka dipenuhi syubhat. Mereka tidak peduli bila suatu waktu mereka menginjak-injak Al-Qur'an dengan kakinya, toh mereka tidak punya adab. Bagi mereka sama saja Al-Qur'an ada dikepala mereka atau dikaki mereka. 

Apakah kita sudah mempelajari adab untuk kehidupan kita sehari-hari?  Subhanallah! Ternyata banyak sekali ilmu tentang adab itu. Saya baru mengetahui sedikit saja dari adab-adab itu. Bahkan kadang saya dilupakan oleh setan tentang adab-adab itu. Akibatnya, saya bisa melakukan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan. Akibatnya, saya melakukan suatu kesalahan fatal yang bisa merugikan diri saya dan orang lain. Sungguh beruntung saya mendapatkan hikmah di atas. Semakin banyak pengetahuan yang saya peroleh semakin menunjukkan betapa bodohnya saya. 

Sumber inspirasi: