Sabtu, 07 Juli 2012

Kiat Mengatasi Kesombongan


Abdullah bin Salam suatu saat mengangkat sendiri ikatan kayu bakar di atas punggung beliau, padahal beliau adalah seorang ulama besar. Hal itu mengundang orang yang menyaksikannya bertanya,”Bukankah pembantu dan anak Anda bisa melakukannya?”

Abdullah bin Salam pun menjawab,”Benar, namun aku ingin menguji diriku, apakah hatiku merasa berat dengan pekerjaan ini atau tidak.”

Abdullah bin Salam tidak mencukupkan hanya dengan berazam untuk meninggalkan rasa gengsi dan sombong, sebelum beliau membuktikan sendiri apakah benar hatinya tidak berubah keadaan tatkalah melakukan pekerjaan yang dianggap oleh banyak manusia sebagai pekerjaan “rendahan”.

Atas dasar itu, Imam Al Ghazali memberi tips untuk mengetahui apakah diri kita sombong atau tidak, yakni dengan menyengaja membawa barang belanjaan dari pasar menuju rumah. Jika seseorang tidak merasa berat karena ada manusia yang menyaksikannya maka ia terjangkit riya’. Namun jika ia merasa berat meski manusia tidak menyaksikannya maka ia sombong. (lihat, Ihya Ulumuddin, 11/1986)

Kisah di atas mengajarkan kepada kita cara yang baik tentang bagaimana mendeteksi kesombongan. Saya kira hal ini dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Contoh yang lain misalnya, bagi para suami dapat membantu pekerjaan istrinya. Misalnya, mengasuh anak, mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, dan menyapu halaman rumah. Mungkin akan kita temukan komentar-komentar negatif orang lain tentang diri kita, apalagi bila kita bermukim dikawasan elit. Mungkin kita akan disangka pembantu rumah tangga. Padahal kenyataannya kita sang pemilik rumah dan orang yang cukup kaya. 

Pekerjaan-pekerjaan rendah semacam itu seringkali membuat kita lebih sabar dan ikhlas. Karena kita harus menguatkan diri kita sendiri, bukan berdasarkan dorongan orang lain. Godaannya pun berat sehingga kita harus berani melawan arus pendapat orang lain tentang diri kita. Seiring dengan berjalannya waktu, mujahadah ini akan membuahkan hasil yang manis yaitu membuat pribadi kita lebih sabar dan ikhlas.Kita telah mengatur pola pikir dan pola hidup kita berdasarkan rasa cinta kita kepada Allah. Bukan cinta kepada makhluk. Rasa pamrih kepada Allah. Bukan pamrih kepada manusia.