Kamis, 26 Juli 2012

Kebencian Kelompok Liberal Terhadap Islam


Setelah menjadi sorotan publik karena tiba-tiba naik menjadi perdana menteri, padahal banyak tokoh lain di Mesir yang lebih populer dan dianggap mampu, Hisham Qandil kini menjadi sorotan karena rambut-rambut yang tumbuh di dagunya.


Sebagian kalangan menilai, janggut yang dipelihara Qandil merupakan identifikasi ideologinya.

Mereka meyakini Presiden Mursi, yang berjanji akan merangkul semua kelompok dalam pemerintahannya, memilih Qandil karena ideologinya itu tercermin pada janggutnya. Meskipun, Mesir memiliki tokoh-tokoh politik yang dipercaya lebih mampu menjadi perdana menteri, seperti penerima Nobel Mohamed ElBaradei dan tokoh politik Ahmed Zewail.

“Hanya di Mesir, memiliki janggut lebih baik daripada memenangi Nobel,” kata Hamdy Ibrahim di Twitter, menyindir keputusan Mursy seperti dikutip BBC (26/7/2012).

Sementara Ahmed Sarhan, juru kampanye Ahmad Shafik bekas orang dekat Husni Mubarak, menulis, “Pelajaran yang dipetik: tumbuhkan janggut!” Seakan ingin mengatakan bahwa jika ingin menjabat dalam pemerintahan pimpinan tokoh politik Islam, maka caranya mudah saja yaitu asal memiliki janggut.

Gamal Fahmy, seorang wartawan liberal dan aktivis politik mengatakan debat publik di situs media sosial sangat mencerahkan. “Ikhwanul Muslimin berhasil memuaskan Amerika dan Barat tetapi mereka gagal memuaskan rakyat Mesir," katanya kepada BBC. “Rakyat Mesir takut mengislamkan negara mereka.”

Sebagaimana diketahui, memelihara janggut dalam Islam diyakini sebagai kewajiban oleh sebagian kalangan. Dan secara umum publik menilai orang yang berjanggut lebih “kuat memegang” ajaran agamanya dibanding mereka yang tidak berjanggut. Seperti halnya kerudung pada wanita Muslim.

Qandil ditunjuk pertama kali menjadi menteri pengairan pada Juli 2011 dalam kabinet pimpinan Kamal Ganzouri di era Husni Mubarak. Ketika itu, dia juga menjadi pusat perhatian karena merupakan satu-satunya menteri yang memelihara janggut.

Saat itu banyak orang memandangnya sebagai simbol perubahan positif di Mesir, mengindikasikan bahwa Islamis tidak lagi diburu, tulis BBC.

Di Mesir yang sekuler, di mana rakyatnya trauma dengan kediktatoran Husni Mubarak dan lebih cenderung menginginkan kebebasan ala Barat, sementara kelompok-kelompok Islam banyak memenangi pemilihan umum menyusul Arab Spring, kemunculan janggut di jajaran pucuk pimpinan negara menjadi kekhawatiran tersendiri akan dominasi Islam atas mereka. (http://hidayatullah.com/read/23953/27/07/2012/mesir-%E2%80%9Ckhawatir%E2%80%9D-janggut-perdana-menteri.html)

Komentar:
Hanya karena memiliki janggut, Perdana Menteri Mesir yang baru ini dipermasalahkan. Hal ini menunjukkan begitu besarnya kebencian kelompok liberal terhadap Islam dan umatnya yang menjalankan syariat Islam. Apalagi jika pemerintahan Mesir yang baru menyeru pelaksanaan syariat Islam, mereka pasti sangat membencinya dan mereka akan berupaya menggagalkannya. 

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka dengan ketakutan mereka itu? Ya, selama ini otak mereka dicekcoki pemikiran bahwa syariat Islam adalah penyebab keterbelakangan. Syariat Islam membunuh kebebasan. Syariat Islam membatasi ruang gerak mereka sehingga akhirnya mereka tidak ada sama sekali. Inilah yang berbahaya dari orang yang mengaku muslim tapi berpikiran liberal. Mereka ibarat musuh dalam selimut, mengaku muslim tetapi tidak mau menjalankan syariat Islam bahkan menentang pelaksanaannya. 

Tidakkah mereka sadari, sebelum-sebelumnya rezim yang menguasai mereka sama sekali tidak peduli dengan pelaksanaan syariat Islam, dan terbukti telah gagal, korup, dan zalim? Apakah mereka mengganggap Ikhwanul Muslimin yang berkuasa saat ini sama seperti orang-orang Taliban berkuasa atau penerapan syariat Islam ala Arab Saudi? Tidak! Bagaimana bisa ada dalam pikiran mereka hal-hal semacam itu. Kalaupun mereka ambil contohnya Arab Saudi, toh Mesir tidak lebih kaya daripada Arab Saudi. Ikhwanul Muslimin memiliki banyak tokoh yang berpendidikan, mulai dari pendidikan agama, sosial, hingga eksak. DR. Muhammad Mursi meraih doktor tekniknya dari Amerika. Prof. DR. Muhammad Badi adalah guru besar kedokteran hewan. DR. Isham Al-Uryan meraih doktor dalam ilmu kedokteran. Begitupun dengan DR. Hisham Qandil meraih gelar doktor di Amerika Serikat. Rata-rata tokoh-tokoh Ikhwan bergelar doktor dan mereka memimpin seluruh asosiasi keahlian yang ada di Mesir. Hal ini menunjukkan betapa profesionalnya mereka. Bila mereka memimpin Mesir, jangan dilupakan keilmuan mereka. 

Seperti inilah tipikal orang-orang liberal. Sama saja dengan di Indonesia atau di negara di manapun mereka berada. Sama-sama menghina Islam. Mereka mengatakan sedang melakukan perbaikan, padahal sesungguhnya mereka sedang menyeru pada kerusakan. Marilah kita berlindung diri kepada Allah dari orang-orang seperti mereka dan pemikiran yang mereka bawa itu. Mari kita jaga anak-anak kita dari pemikiran yang salah. Mari kita tanamkan kepada anak-anak kita kecintaan pada Islam. Karena siapa lagi yang dapat mengubah keadaan ini dan memutus mata rantai pemikiran sesat ini selain kita sebagai orangtua.