Rabu, 18 Juli 2012

Inti Hidup Adalah Gerak….




Jika kita sering melakukan gerak, maka kita akan hidup. Karena dengan gerak, organ tubuh juga kita ikut bergerak. Sehingga jantung akan memompakan darah ke seluruh tubuh kita… Orang yang sering melakukan silaturrahim terhadap sesamanya. Baik teman, kenalan, tetangga, orangtua, dan lainnya, maka ia akan selalu melakukan gerak pada organ tubuhnya. Otomatis organ tubuhnya menjadi hidup, yang akhirnya berkorelasi kepada MEMPERPANJANG usia hidupnya sebatas kehendakNya... Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT 
Dari hubungan silaturrahim akan mendatangkan banyak rizki yang tidak disangka-sangka kepada siapa pun yang melakukannya.

Rizki yang bagaimana?  Itu hak perogatif Allah SWT.  yang jelas, dari silaturrahim ini akan terjadi dialog, pembicaraan tentang sesuatu hal. Di sini tentunya, akan terjadi transfer ilmu pengetahuan dari apa-apa yang diobrolkannya. Ilmu pengetahuan itu, juga merupakan rizki. Lalu, kita dijamu misalnya. Itu juga merupakan rizki. Belum lagi, jika dari pertemuan itu berlanjut dgn kesepakatan kerjasama untuk berusaha atau berbisnis. Bukankah itu suatu rizki? Dan masih banyak yang lainnya. Yang pasti, niatan kita ikhlas mengharap ridha Allah.. Allah Mahakaya dan Maha Segala-galanya....

Walaupun selalu saja ada sisi positif dan negatif sebuah interaksi dari suatu gerak. Positif ketika interaksi memunculkan rasa cinta dan sayang, kuatnya persaudaraan, tolong menolong sesama mukmin. Dan negatif, saat interaksi meletupkan bunga-bunga api kekecewaan. Kebencian pun tak terelakkan.

Kebencian karena persoalan teknis semisal salah paham, emosi dadakan, mestinya hanya bertahan beberapa hari. Karena prinsipnya setiap mukmin punya satu ikatan: akidah Islam. Sehingga persoalan teknis di lapangan bisa cair sendiri bersama waktu dan kesibukan. Setelah itu, muncul lagi kerinduan.

Namun, begitulah setan. Emosi yang labil menjadi alat efektif pintu setan untuk mengobrak-abrik persaudaraan. Sesama mukmin menjadi marahan. Bahkan, pada dosis tertentu, marahan bisa diwariskan ke anak cucu. Na’udzubillah. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Jika marah diibaratkan sebagai api, maka airlah yang paling cocok agar api segera padam. Tidak mungkin api akan padam dengan api. Dan air adalah perumpamaan yang pas buat gerakan silaturahim.

Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa gerakan lewat celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang diumbar marah dan benci sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan gerakan perhatian dan sapaan yang tulus.

Harus ada prakarsa agar kebencian tidak berlanjut. Dan yang terbaik adalah mereka yang lebih dulu mengawali kunjungan. Indahnya sebuah nasihat Rasullah saw., “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. Dan yang terbaik, yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Al-Bukhari)

“Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

www.hilmanmuchsin.blogspot.com