Selasa, 10 Juli 2012

Ikhlas









Ikhlas adalah syarat diterimanya amal shalih yang dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk itu dalah firman-Nya:

"Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepada-Nya, lagi bersikap lurus" (Al-Bayyinah:5)

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah SAW, dan bertanya," Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?"
Rasulullah SAW menjawab," Ia tidak mendapatkan apa-apa." Orang tadi mengulangi pertanyaan-nya tiga kali, dan Rasulullah SAW pun tetap menjawab," Ia tidak mendapatkan apa-apa." Lalu beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya." (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i dengan sanad yang jayyid (bagus).)

Abu Sa'id Al-Khudriy meriwayatkan bahwa pada waktu Haji Wada', Rasulullah bersabda," Semoga Allah mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya. Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga hal yang seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal kepada Allah, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin, dan selalu bergabung dengan jamaah mereka." (HR. Al-Bazzaar dengan isnad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya).

Maksudnya ketiga hal diatas dapat memperbaiki hati. Barangsiapa menjadikan ketiganya sebagai akhlaq, pasti hatinya akan bersih dari khianat, kerusakan dan kejahatan.

Seorang hamba hanya akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah SWT berfirman, mengungkapkan pernyataan Iblis," Kecuali hamba-hamba-Mu yang selalu ikhlas." (Shad:83)
Diriwayatkan, seseorang yang shalih berkata kepada dirinya sendiri," Wahai diri, Ikhlaslah, maka kamu akan selamat!"

Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan-harapan duniawi - yang disenangi oleh diri dan hati manusia - sedikit ataupun banyak, maka, sungguh, kejernihan amal itu telah tercemari. Hilang pulalah keikhlasan.

Padahal kebanyakan manusia terlena dalam harapan-harapannya dan juga syahwatnya. Hampir tidak ada suatu amalan atau ibadah yang dilakukan oleh seseorang, bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan yang sebenarnya tidak berharga ini. Itulah sebabnya ada pepatah,

"Barangsiapa yang sesaat dari umurnya telah dengan ikhlas, hanya mengharap wajah Allah, pastilah ia akan selamat."

Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran - sedikit ataupun banyak - sehingga tujuan dari taqarrub benar-benar murni karena Allah SWT, bukan yang lain. Hal ini hanya akan datang dari seseorang yang menciantai Allah SWT dan menggantungkan seluruh harapannya di akhirat. Tidak tersisa tempat di hatinya untuk mencintai dunia. Bila ia makan, minum, ataupun membuang hajat, semuanya dikerjakan dengan ikhlas dan dengan niat yang benar. Sedangkan yang bisa berbuat tidak demikian, sesungguhnya pintu ikhlas tertutup rapat baginya, kecuali sedikit saja.

Seseorang yang dipenuhi oleh kecintaan kepada Allah SWT dan akhirat pasti seluruh aktivitas hariannya merupakan cerminan dari cita-citanya, sehingga keseluruhannya dilakukan dengan ikhlas. Begitu juga dengan orang yang telah dikalahkan oleh gemerlap dunia, derajat, pangkat dan segala sesuatu selain Allah SWT, seluruh aktivitasnya pun merupakan cerminan dari harapan-harapannya. Tidak ada shalat, puasa atau ibadah lain, yang dikerjakan dengan ikhlas.

Resep untuk ikhlas adalah memupus kesenangan-kesenangan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia dan mengusahakan agar hati selalu terfokus kepada akhirat. Hal ini akan sangat memudahkan seseorang untuk menggapai keikhlasan. Banyak orang yang telah berpayah-payah untuk beramal, menyangka bahwa ia melakukannya dengan ikhlas karena Allah SWT. Padahal sesungguhnya ia telah tertipu. Hal ini terjadi, karena ia tidak memperhatikan perkara-perkara yang merusak keikhlasan.

Sebagaimana dikisahkan, ada seseorang yang selalu menunaikan shalat di shaf pertama. Suatu ketika ia terlambat, dan ia shalat di shaf kedua. Lalu ia diliputi rasa malu karena dilihat banyak orang. Dari sini, ia tahu, bahwa ketenangan hatinya dalam melaksanakan shalat di shaf pertama selama ini disebabkan oleh pandangan orang-orang kepadanya.

Itulah satu contoh, betapa sedikit amal yang dikerjakan dengan ikhlas. Betapa sedikit orang yang menyadarinya, kecuali orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah SWT. Adapun orang-orang yang lalai darinya, kelak pada hari kiamat, mereka akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Tentang mereka, Allah SWT berfirman,

"Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi mereka dari Allah apa-apa yang belum pernah mereka perkirakana. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan." (Az-Zumar: 47 - 48)

"Katakanlah," Maukah kalian kami kabarkan tentang orang-orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedangkan mereka menyangka telah mengerjakannya dengan sebaik-baiknya." (Al-Kahfi: 103)

(Disadur dari buku "Tazkiyatun Nafs" oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dan Imam Al-Ghazali, Alih bahasa oleh Imtihan As-Syafi'i, penerbit: Pustaka Arafah)