Jumat, 27 Juli 2012

Bulan Puasa - Doa Keselamatan Untuk Muslim Rohingya


13429410781815566948
Ilustrasi/Muslimah Rohingya menangis (Foto: Republika Online)
Diakui memang, pemberitaan tentang kekejaman dan penindasan terhadap kaum muslim Rohingya jarang diberitakan secara terfokus oleh media massa di tanah air, maupun media massa internasional. Tidak ada ulasan khusus, misalnya seperti revolusi di Tunisia, Mesir, Libya atau Suriah.

Kita tidak tahu, apakah karena tragedi kemanusiaan itu dianggap berita kecil disebuah provinsi di utara Myanmar, atau karena yang jadi korban adalah kaum muslimin. Memang, tragedi penindasan kaum Rohingya tidak memberi keuntungan ekonomis, tidak ada minyak disana sehingga kurang direspon oleh dunia internasional.

Bahkan perhimpunan negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN saja sepertinya kurang berani merespon tragedi kemanusiaan yang cukup kejam itu. Padahal, Myanmar adalah salah satu negara anggota ASEAN, apakah karena hal itu dianggap sebagai urusan dalam negeri Myanmar maka negara ASEAN lainnya diam? Atau karena polisi dunia belum memberi komentar?

Benar memang, tragedi kemanusiaan yang dihadapi oleh kaum muslimin Rohingya sebagai urusan dalam negeri pihak Myanmar. Seperti kata Djumara Supriyadi, Atase Sosial Budaya KBRI di Myanmar (Republika Online, 22/7) bahwa Indonesia tidak bisa berbuat banyak dalam mengatasi penindasan muslim Rohingya di Provinsi Rakhine. Sikap KBRI memandang penindasan Muslim Rohingya sebagai masalah dalam negeri negara itu.

Sebenarnya apa penyebab terjadinya penindasan terhadap kaum minoritas, muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar? Menurut situs BBC Indonesia (Jumat, 20/7) kekerasan antara warga Buddha dan Muslim muncul ketika seorang perempuan Buddha ditemukan terbunuh pada bulan Mei lalu. Tidak lama kemudian, bus yang ditumpangi warga Muslim diserang. Keadaan menjadi tidak terkendali ketika warga Muslim dan warga Buddha saling serang menyerang yang menyebabkan sejumlah orang tewas, dan sebagian besar harus mengungsi.
Paling ironis lagi sebagaimana dilaporkan peneliti Amnesty, Benjamin Zawacki kepada BBC (20/7) bahwa kaum minoritas Rohingya menjadi sasaran utama ketika kerusuhan terjadi dan terus mengalami pelanggaran, dan kali ini dilakukan oleh pasukan keamanan.

Bagaimana sikap dunia barat atau PBB terhadap penindasan ini? Sepertinya reaksi mereka begitu lambat dibandingkan ketika mereka merespon tragedi-tragedi kecil yang terjadi di Indonesia. Kemudian, bagaimana seharusnya sikap Indonesia terhadap penindasan manusia di Provinsi Rakhine itu?
PBNU mendesak Indonesia menempuh jalur diplomasi untuk menyelesaikan masalah penindasan Muslim Rohingya. “Bila perlu, Presiden SBY turun langsung membawa masalah Rohingya ini ke forum ASEAN,” kata KH. A Malik Madany, Khatib Am PBNU. Sementara itu, Romo Antonius Benny Susetyo mendesak pemerintah Indonesia untuk bertindak tegas dengan mengirim protes keras kepada Myanmar (Republika Online, 22/7).

Lantas bagaimana sikap kita selaku Bangsa Indonesia, terutama kaum muslimin yang sedang melaksanakan ibadah puasa? Kita juga perlu mendesak Pemerintah bersikap tegas terhadap penindasan kemanusiaan di Provinsi Rakhine itu. Apabila Indonesia benar-benar sebagai salah satu negara yang paling berpengaruh di ASEAN, sudah sepantasnya segera menunjukkan “taring” misalnya menjadi pelopor dalam menyelesaikan masalah itu.

Selain itu, karena secara fisik kita tidak dapat membantu Muslim Rohingya secara langsung, mari terus berdoa agar mereka tabah menghadapi cobaan itu, dan diberi keselamatan dari penindasan oleh kaum Buddha Rakhine. Dalam bulan yang penuh ampunan ini, doa yang kita sampaikan dengan penuh keikhlasan, Insya Allah akan dikabulkan. Amin Ya Rabb.

Kemudian, mari kita perlakukan kaum muslim Rohingya yang masuk atau yang mengungsi ke Indonesia seperti saudara sendiri. Berikan kesempatan kepada mereka untuk menumpang hidup di bumi Tuhan ini. Sumbangkan apa yang bisa disumbangkan, yang penting bisa bermanfaat bagi mereka untuk bertahan hidup.