Rabu, 27 Juni 2012

Poros Kehidupan Seorang Mukmin: Iman Kepada yang Gaib


Al-Ghaibu: Para ulama Salaf berbeda redaksi dalam menafsirkannya. Abul ‘Aliyah mengatakan: Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, surga-Nya, pertemuan dengan-Nya dan kehidupan setelah mati. Itu semua adalah hal-hal yang ghaib. 

As-Sadyi meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud bahwa: Hal yang ghaib adalah hal-hal yang tersembunyi dari hamba seperti surga, neraka dan sebagainya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. 

‘Atha mengatakan: Barangsiapa yang telah beriman kepada Allah, itu artinya dia telah beriman kepada hal yang ghaib. Semua pendapat tersebut maknanya berdekatan, maksudnya adalah sama.

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata: Kami duduk bersama dengan Abdullah bin Mas’ud, saat itu kami memperbincangkan para sahabat Nabi Saw. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Muhammad Saw. memiliki pandangan mata yang tajam. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada keimanan yang lebih utama dari pada beriman kepada hal yang ghaib.” Kemudian Abdullah bin Mas’ud membaca surat Al-Baqarah ayat 3 – 5.” (H.R. Ibnu Abi Hatim, Ibnu Murdawiyah dan Hakim. Hakim mengatakan bahwa hadits tersebut shahih berdasarkan kriteria shahih yang ditetapkan oleh Syaikhani)

Berkenaan dengan makna hadits tersebut, Imam Ahmad meriwayat­kan dari Ibnu Muhairizi, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Jam’ah, “Bacakanlah satu hadits yang engkau terima dari Rasulullah Saw.” Abu Jam’ah berkata, “Baiklah aku akan membacakan satu hadits yang baik: Kami sedang makan bersama Rasulullah Saw., di sana juga ada Abu Ubaiddah bin Jarah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang lebih baik dari kami? Padahal kami menegakkan Islam dan berjihad bersama engkau?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya, mereka adalah orang-orang yang hidup setelah kalian, mereka iman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku.” (H.R. Ahmad dari Abu Jam’ah Al-Anshari)

Dalam riwayat yang lain dari Shalih bin Jabir, dia berkata: Abu Jam’ah Al-Anshari menemui kami. Dia adalah orang yang menemani Rasulullah Saw. di Baitul Muqaddas dan ikut shalat bersama beliau di sana. Pada saat itu di antara kami juga ada Raja’ bin Haiwah r.a.. Ketika Abu Jam’ah keluar, kami ikut keluar berjalan bersamanya. Pada saat akan berpisah dia berkata, “Sesungguhnya kalian mempunyai ganjaran dan hak. Aku akan menceritakan hadits yang aku terima dari Rasulullah Saw.” Kami berkata, “Baiklah, semoga Allah merahmatimu.” Dia berkata, “Kami bersama Rasulullah Saw. saat itu ada Mu’adz bin Jabal, kami bertanya kepada beliau: “Apakah masih ada kaum yang ganjarannya lebih besar dari kami yang beriman kepadamu dan mengikuti jalanmu?” Rasulullah Saw. bersabda, “Apa yang menghalangi kalian dari itu, padahal Rasulullah ada di hadapan kalian dengan membawa wahyu dari langit? Akan tetapi kaum setelah kalian diberikan kitab dari dua lembaran, beriman kepadanya dan mengamalkannya. Mereka mendapat pahala yang lebih besar dari kalian. Mereka mendapat pahala yang lebih besar dari kalian.” (H.R. Abu Bakar bin Murdawiyah dalam tafsirnya dari Shalih bin Jubai dari Abu Jam’ah).

Sahabatku, menurut penjelasan di atas, ternyata iman yang paling tinggi adalah iman kepada yang gaib. Dengan iman itulah orang-orang beriman berhati-hati dalam meniti langkah di dunia ini. Mereka menyadari dengan penuh keyakinan tentang kebenaran ajaran Islam meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka juga meyakini akan adanya alam akhirat, surga, neraka, alam kubur, dan mereka meyakini jika Allah melihat mereka meskipun mereka tidak dapat melihat Allah dengan mata kepala mereka. 

Kebalikannya dengan orang yang tidak beriman kepada yang gaib, mereka menghina Islam, berbuat dan berkata semaunya, tidak punya adab dalam bertingkah laku. Mereka berbuat maksiat karena merasa tidak ada yang melihat mereka. Mereka melakukan korupsi, manipulasi, konspirasi jahat, dan perbuatan tercela lainnya. Yang paling buruk dari mereka adalah orang yang tidak mempercayai adanya Allah, maka runtuhlah kebaikannya, hancurlah akhlaknya. Menurut mereka sistem yang sedang mereka bangun benar, tapi kenyataannya dalam sejarah tertulis bahwa kehancuran dan kerusakan disebabkan oleh mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan dan bertindak bukan sesuai dengan perintah Tuhan. Mereka berbuat hanya memperturutkan hawa nafsunya.

Sungguh mengerikan akibatnya bila keimanan kepada yang gaib tercerabut dari hati dan pemikiran kita. Karena dapat mengakibatkan kerusakan di alam semesta. Perzinaan merebak dimana-mana, korupsi merajalela, riba menguasai sistem ekonomi yang ada, kekerasan atas nama anarkisme hawa nafsu seperti ashobiyah ada dimana-mana. Maka, sudah saatnya bagi kita untuk kembali kepada poros kehidupan kita. Yaitu beriman kepada yang gaib. Dialah penggerak dan pendorong yang paling kuat untuk beramal, menjauhi maksiat, dan bertobat.