Sabtu, 23 Juni 2012

MSG: Berbahaya Atau Tidak?

Saya teringat dengan nasehat guru biologi saya sewaktu masih duduk di bangku SMP. Dia mengatakan kepada kami agar menjauhi MSG karena membuat orang cepat mati. Kata-kata 'cepat mati' membuat saya selalu ingat dengan nasehat itu. Antara percaya dan tidak percaya. Apakah dia sedang becanda? Delapan belas tahun sudah saya mengingatnya, menunjukkan betapa pentingnya nasehat itu bagi saya. Kalau tidak penting sudah pasti saya melupakannya sedari dulu.

Rasa penasaran saya semakin bertambah setelah istri saya sakit typus. Beberapa teman menasehati saya agar menjaga makanan dan minuman. Mereka juga menyarankan saya untuk menjauhi MSG. MSG lagi? Kata-kata itu semakin sering terdengar di telinga saya. Rasa penasaran pun semakin bertambah.

Apa itu MSG? Benarkah MSG itu berbahaya? Saya coba menelusuri di internet tentang dua pertanyaan ini.

Tentang MSG
MSG atau Monosodium glutamat adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti Glutamate yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium dan Glutamate.


Secara sederhana MSG dibagi menjadi dua jenis, yakni alami dan buatan. MSG yang alami sehat untuk dikonsumsi. Sedangkan yang buatan, dan justru banyak beredar, sangat berpotensi mendatangkan gangguan kesehatan.

MSG Tidak Berbahaya
Sebuah laporan dari Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) yang disusun pada tahun 1995 atas nama United States Food and Drug Administration (FDA) menyimpulkan bahwa MSG aman bila "dikonsumsi pada tingkat yang sesuai."

Food Standards Australia New Zealand (FSANZ) mengutip "bukti yang sangat berlimpah dari sejumlah besar penelitian ilmiah" untuk menolak secara tersurat segala kaitan antara MSG dengan “reaksi negatif serius” atau "efek jangka panjang", dan menyatakan MSG "aman untuk masyarakat umum". Namun badan ini menguraikan bahwa pada kurang dari 1% penduduk, individu yang peka dapat mengalami efek samping “sementara” seperti "sakit kepala, mati rasa/perasaan geli, kemerahan, kekakuan otot, dan kelemahan umum" terhadap sejumlah besar MSG yang diasup dalam satu hidangan tunggal. Orang-orang yang menganggap dirinya sensitif terhadap MSG dianjurkan untuk memastikan hal ini melalui penilaian klinis yang benar.

Dalam bukunya yang berjudul On Food and Cooking versi tahun 2004, penggemar makanan dan pengarang Harold McGee menyatakan bahwa "[setelah banyak penelitian], toksikolog telah menyimpulkan bahwa MSG merupakan bahan yang tidak berbahaya bagi sebagian besar orang, dalam jumlah besar sekali pun."

Komite Ilmiah Uni Eropa juga menilai MSG sebagai zat makanan yang aman. Di Jepang, MSG adalah zat aditif makanan yang boleh digunakan tanpa pembatasan. Di Indonesia sendiri, MSG termasuk bahan makanan yang dianggap aman oleh BPOM.

“Micin atau penyedap rasa, atau MSG, aman dikonsumsi masyarakat. Asosiasi pangan dunia juga telah menguji kalau efek negatif yang selama ini digembar-gemborkan ke masyarakat tentang penggunaan micin tidak terbukti,” kata Kepala BPOM Pusat, Husniah Rubiana Thamrin, dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (25/5/2009).

FDA menganggap label seperti “Tanpa MSG" atau “Tanpa Tambahan MSG” sebagai menyesatkan jika makanan mengandung bahan yang merupakan sumber glutamat bebas, seperti protein terhidrolisis. Pada tahun 1993, FDA mengusulkan penambahan frase “(mengandung glutamat)” pada nama umum atau biasa dari hidrolisat protein tertentu yang mengandung sejumlah besar glutamat.

Batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan.

MSG Berbahaya
Namun, menurut Russell Blaylock, penulis buku Excitotoxins – The Taste That Kills, MSG adalah excitotoxin yaitu zat kimia yang merangsang dan dapat mematikan sel-sel otak. Blaylock menyatakan bahwa MSG dapat memperburuk gangguan saraf degeneratif seperti alzheimer, penyakit Parkinson, autisme serta ADD (attention deficit disorder).

MSG juga meningkatkan risiko dan kecepatan pertumbuhan sel-sel kanker. Ketika konsumsi glutamat ditingkatkan, kanker tumbuh dengan cepat, dan kemudian ketika glutamat diblokir, secara dramatis pertumbuhan kanker melambat. Para peneliti telah melakukan beberapa eksperimen di mana mereka menggunakan pemblokir glutamat  yang dikombinasi dengan pengobatan konvensional, seperti kemoterapi, dan hasilnya sangat baik. Pemblokiran glutamat secara signifikan meningkatkan efektivitas obat-obat anti kanker.

Berikut adalah beberapa efek samping dan gangguan spesifik yang berhubungan dengan MSG menurut Blaylock :
  • Kejang
  • Mual
  • Alergi
  • Ruam
  • Serangan asma
  • Sakit kepala
  • Mulut terasa kering
  • Hilang ingatan

Reaksi terhadap MSG dapat terjadi kapan saja, dari mulai segera setelah mengkonsumsi MSG sampai beberapa hari kemudian. Anak-anak lebih rentan terhadap efek negatifnya dibandingkan orang dewasa.

Hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 – 4 mg per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala kerusakan otak.

Kesimpulan
Dari dua pandangan yang berbeda ini, saya menyimpulkannya sebagai berikut: Pertama, asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan. Artinya, kalau dikonsumsi lebih dari itu dapat membahayakan. Kedua, anak kecil, ibu yang sedang mengandung, orang yang terkena stroke, cidera otak karena terbentur, terluka, atau penyakit syaraf, jangan diberi MSG. Ini semakin menunjukkan ada unsur yang negatif pada MSG. Mengonsumsi MSG menyebabkan penumpukan asam glutamat pada jaringan sel otak yang bisa berakibat kelumpuhan. Artinya, bila sudah ada efek sampingnya untuk anak dan ibu yang mengandung, berarti juga ada efek samping bagi orang-orang selainnya walaupun efek sampingnya tidak sebesar yang dirasakan anak dan ibu hamil. Ketiga, walaupun dikatakan aman mengkonsumsi MSG, United States Food and Drug Administration (FDA) mengatakan bahwa perusahaan yang menggunakan MSG dalam produk-produknya harus mencantumkan "MSG" pada produk-produk tersebut. Hal ini semakin menunjukkan ada yang negatif pada MSG. 

Kesimpulan saya ini hanya analisa saya. Bisa salah bisa benar. Bagi saya tidak mengapa mengkonsumsi MSG secara terbatas. Tapi lebih baik menghindarinya karena lebih alami dan menyehatkan.