Selasa, 19 Juni 2012

Menulis Apa yang Pernah Ditulis

Saya temukan sebuah pernyataan berikut ini di sebuah forum diskusi: “Saya tidak akan menulis tema yang pernah ditulis oleh orang lain.”

Di dalam hati saya berkata, Apakah menulis dengan tema yang sama otomatis isinya juga sama? Kalau sama persis berarti dia sedang menjiplak bukan sedang menulis. Kalau tidak sama, berarti dia punya kelebihan dari tulisan yang pernah dibuat. Kalau tulisannya lebih buruk daripada tulisan yang sudah ada, itu hanya masalah proses. Bukan masalah konten. Sedangkan konten tulisan kita adalah orsinil dari kita berdasarkan ilmu dan pengalaman yang kita miliki.

Alangkah sempitnya ilmu bila kita berhenti berkarya lantaran sebelumnya sudah ada karya dengan tema yang sama. Sejarah telah membuktikan para ilmuwan, para ulama, dan kaum cerdik pandai berlomba-lomba menulis buku atau kitab walaupun dengan tema yang sama. Misalnya, sudah berapa banyak ulama kita menulis kitab tentang tafsir, Sirah Nabawiyah, doa dan dzikir, fikih, atau cabang-cabang ilmu lainnya. Sudah sangat banyak sekali, bahkan tidak terhitung jumlahnya. Sewaktu pasukan Mongol menghancurkan Baghdad, jutaan buku dibuang ke sungai Tigris hingga sungai tersebut berubah warna menjadi hitam pekat. Hal ini menunjukkan warisan ilmu pengetahuan yang sangat melimpah yang pernah ditulis oleh para ilmuwan dan ulama.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."  (QS. Al-Kahfi: 109)

Menurut Imam Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah, seandainya air laut itu dijadikan tinta untuk digunakan menulis kalimat-kalimat Allah, hukum-hukum-Nya, ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan-Nya, niscaya akan habis air laut itu sebelum penulisan semuanya itu selesai.

Hikmah Allah sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya. Setiap orang berhak mendapatkan hikmah tersebut. Sebaliknya, bagi orang yang mempersempit dan mempersedikit hikmah Allah, menunjukkan orang tersebut belum memahami dan meyakini keagungan dan kebesaran Allah Swt. 

Oleh karena itu, jika kita memiliki kemampuan menulis pada tema yang pernah ditulis oleh orang lain dan kita ingin menuliskannya, maka menulislah. Karena hal itu adalah anugerah dari Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, “Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)