Kamis, 21 Juni 2012

Jilbab Bukan Topeng

Ada fenomena aneh akhir-akhir ini, wanita-wanita yang menjadi tersangka korupsi tiba-tiba mengenakan jilbab. Sebagian di antara mereka mengenakan cadar. Padahal di foto-foto sebelumnya mereka tidak berjilbab. Apakah mereka telah sadar sehingga mereka berjilbab? Hanya diri mereka dan Allah yang tahu tentang niat yang ada dalam hati mereka. Saya berdoa semoga mereka benar-benar insyaf dan mengenakan jilbab seterusnya.

Bagaimana bila jilbab yang mereka kenakan hanya main-main saja? Misalnya ketika mereka terbebas dari masalah, mereka kembali pada pakaian mereka yang dulu. Menurut saya, hukumnya ada dua: Pertama, hukum yang berkaitan dengan Allah. Dan kedua, hukum yang berkaitan dengan manusia. 

Hukum yang berkaitan dengan Allah ketika wanita-wanita itu menjadikan salah satu hukum Allah, yakni jilbab sekedar main-main belaka. Bagi mereka, jilbab yang mereka kenakan bukan merupakan perintah Tuhan yang harus mereka kenakan dengan sepenuh hati, tetapi sekedar menutup wajah mereka sebagai topeng, agar masyarakat simpati kepada mereka.

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. At-Taubah: 65)

Hukum yang berkaitan dengan manusia, bila mereka hanya main-main saja dengan jilbabnya, dan kemudian masyarakat digiring opininya, bahwa wanita-wanita yang berjilbab itu koruptor, kemudian wanita-wanita yang memang benar-benar berjilbab terpojokkan, bahkan mungkin dihina dan dilecehkan, maka wanita-wanita itu harus bertanggung jawab terhadap kaum muslimah dengan meminta maaf. 

“Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, penting bagi wanita-wanita itu untuk mengazamkan diri mereka untuk terus berjilbab baik dikala susah maupun senang. Bila tidak, hukum Allah dan hukum manusia akan terjadi, dan akibatnya sangatlah berat bagi wanita-wanita itu. Hukum yang terkait dengan manusia lebih berat karena dia harus meminta maaf kepada kaum muslimah yang merasa terzalimi atas tindakannya itu. Bisa jadi muslimah yang terzalimi itu mendoakan wanita-wanita itu, dan doa orang-orang yang terzalimi sangat dikabulkan Allah. Dan, lebih-lebih kelak diakhirat, mereka akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang mereka perbuat.