Kamis, 21 Juni 2012

Ada Apa Antara Kita dan Rahmat Allah?



 


Namun pertanyaannya adalah, jika demikian halnya, mengapa kita dan banyak orang lain sering seakan terlewati oleh guyurah rahmat-ahmat Allah itu?
Sebagai konsekuensi bahwa, Allah adalah Dzat Ar-Rahman Ar-Rahim, maka rahmat Allah dalam bergam bentuk tak terbatas itu, ibarat hujan, akan selalu turun deras, tercurah lebat dan “nggrojok” hebat, setiap saat tanpa pernah putus sedetikpun, dan tiada kenal henti sekejappun…
Dan curahan serta “grojokan” hujan rahmat-Nya itupun, juga seperti hujan air-Nya, siap “mengguyur” siapapun diantara semua hamba-Nya di muka bumi ciptaan-Nya ini!
Untuk menjawabnya, mari bertanya pula, saat hujan lebat turun, mengapa banyak dan bahkan kebanyakan orang justru tidak terkena curahan air hujan deras tersebut? Dan jawabannya tentu telah jelas sekali bagi siapapun. Yakni, karena mereka semua berada di dalam rumah-rumah, gedung-gedung, kendaraan-kendaraan, di bawah jembatan-jembatan, tenda-tenda, payung-payung, dan lain-lain. Dimana intinya, semua sarana tersebut telah berfungsi sebagai pelindung dan penghalang antara mereka dan curah hujan dari langit Allah. Sehingga siapapun, jika tanpa pelindung-pelindung dan penghalang-penghalang itu, tentulah derasnya air hujan akan mengguyur dan membasahinya secara langsung!
Itu hanyalah permisalan penjelas untuk sekadar mendekatkan pemahaman dan memantapkan keyakinan.
Nah, demikian pulalah sifat hubungan antara kita dan rahmat Allah yang senantiasa tercurah setiap saat, dan dalam segala kondisi serta situasi. Dimana jika pada saat-saat tertentu, secara riil bukan sekadar asumsi atau perasaan saja misalnya, ternyata kita benar-benar terlewati oleh curahan rahmat-rahmat yang tak kenal jeda itu, pastilah sebabnya adalah karena banyak dan beragamnya faktor penghalang dalam diri yang merintangi sampainya rahmat Dzat Ar-Rhman Ar-Rahim kepada kita. Persis seperti terhalangnya orang-orang yang di dalam gedung, rumah dan lain-lain, dari terkena curah hujan!
Dan umumnya, faktor-faktor penghalang itu, tiada lain, adalah beragam dosa-dosa kita, ke-tidak syukur-an kita, ke-tidak sabar-an kita, seringnya kita ber-suudzan kepada Allah, dan seterusnya dan seterusnya!
Maka, mari masing-masing dari kita selalu sibuk mencari, menemukan dan menyadari faktor-faktor penghalang utama antara rahmat Allah dan dirinya. Lalu selalu bermujahadah untuk menghilangkannya. Seraya tak henti meyakinkan hati bahwa, seiring dengan hilangnya penghalang-penghalang itu, rahmat Allah pun, sesuai kebutuhan menurut ilmu Allah, akan langsung menghampirinya nggak pake lama! Insya-allah tentunya!
Sumber:Status FB Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA