Rabu, 20 Juni 2012

68% Jajanan Sekolah Mengandung Bahan Kimia Berbahaya

Saya sering melewati sebuah sekolah di dekat rumah saya. Letak sekolah itu berada di pinggir jalan raya. Di trotoar jalan terlihat banyak sekali pedagang. Mereka menjual berbagai jenis makanan. Saya sempat melihat yang mereka jual jajanan-jajanan yang tidak jelas menyehatkan atau tidak. Belum lagi gerobak, penggorengan, dan wadah adonannya yang terlihat kotor. Ditambah lagi asap kendaraan bermotor dan debu yang beterbangan yang kemungkinan besar menempel di jajanan itu. Saya jadi pusing melihatnya. 

Walaupun anak saya belum ada yang masuk sekolah dasar, tetapi sedari awal sudah saya katakan kepada istri saya untuk menjaga makanan yang akan dimakan oleh anak-anak. Lebih baik membuat makanan sendiri karena sudah tahu jenis bahannya; mana yang harus dihindari dan mana yang tidak membahayakan bagi kesehatan. Sedangkan untuk makanan dari luar, kita tidak tahu makanan itu menyehatkan atau tidak, bahan-bahannya terjamin atau tidak. Walaupun makanan itu sepintas tampak enak dan lezat. 

Menurut Rahmat Sentika, Ketua Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sekitar 68 persen jajanan anak di sekolah memiliki kandungan bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, dan rhodamin. 

Dia mengatakan hal tersebut memang tidak akan terlihat dalam jangka waktu dekat. Tetapi dalam jangka waktu yang lama, zat kimia itu akan menyebabkan kerusakan pada ginjal serta gangguan dalam tumbuh kembang anak. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/nusantara-nasional/12/05/23/m4h5ci-68-persen-jajanan-sekolah-mengandung-kimia-berbahaya)

Fakta ini sungguh mengejutkan bagi saya. Fakta ini seharusnya kita perhatikan dengan seksama.

Saya teringat dengan perkataan Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam salah satu bukunya, yang mengatakan, sangat mudah bagi musuh-musuh Islam meracuni generasi muda Islam dengan makanan dan minuman yang tidak menyehatkan. Saya contohkan misalnya, sering memberi anak-anak makanan dan minuman cepat saji. Mereka bisa saja meracuni air seperti yang terjadi di Gaza Palestina. Sehingga pada akhirnya generasi muda Islam menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. 

Setelah mereka dewasa lalu menikah dan mempunyai keturunan, secara genetik orangtua akan mewarisi apa yang ada di dalam diri mereka kepada anak-anak mereka. Seperti misalnya, orangtua yang mempunyai penyakit alergi, maka kemungkinan besar anak-anaknya juga akan terkena alergi. Begitupun dengan orangtua yang terkena diabetes, kemungkinan besar anak-anaknya beresiko mengidap penyakit diabetes. Dan, penyakit-penyakit lainnya.

Pada akhirnya, musuh-musuh Islam menjadi lebih mudah menghancurkan umat Islam. Tampaknya hal ini sudah menjadi rahasia umum. Oleh karena itu, umat Islam harus senantiasa waspada. Bahwa memberi makanan yang buruk kepada anak kita adalah salah satu perbuatan tercela. Kaidahnya, “Islam menghalalkan semua makanan yang halal, suci, baik, dan tidak mengandung mudhorot, demikian pula sebaliknya Islam mengharamkan semua makanan yang haram, najis atau ternajisi, khobits (jelek), dan yang mengandung mudhorot.” 

Bila kita tetap memberi makanan yang buruk kepada anak-anak kita, berarti kita telah melanggar sunnatullah-Nya yang mengatakan salah satu penyebab kebinasaan adalah memakan makanan yang buruk.