Sabtu, 12 Mei 2012

Beginilah Rasulullah Mencintai dan Menyayangi Anak-Anak



Setelah saya menulis artikel berjudul "Dari Irshad Manji untuk Anak Kita", saya ingin melanjutkannya dengan menulis artikel tentang bagaimana Rasulullah Saw. dan orang-orang beriman mencintai dan menyayangi keluarganya dan bagaimana dampaknya kepada anak-anak mereka.

Di dalam Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa ketika masih di dalam kandungan, Rasulullah sudah ditinggal mati ayahnya, Abdullah. Dan, ketika berumur enam tahun beliau sudah ditinggal mati ibunya tercinta, Aminah. Betapa sangat menyedihkannya. Sejak kecil Rasulullah Saw. sudah menjadi anak yatim piatu. Namun kemudian kakeknya Abdul Muththalib mengambil alih pengasuhannya. Abdul Muththalib adalah seorang kakek yang penyayang. Beliau membesarkan Muhammad kecil dengan penuh tanggung jawab. 

Setelah sang kakek wafat, Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Seperti kakeknya, Abu Thalib juga dikenal sebagai pribadi yang penyayang. Abu Thalib tidak membeda-bedakan antara anak dengan keponakannya itu. Ketika Rasulullah mulai menyebarkan Islam ditengah kaumnya, Abu Thalib adalah orang yang menjadi pembelanya walaupun masih musyrik. Oleh karena itu, ketika Abu Thalib wafat, Rasulullah sangat sedih dan merasa kehilangan. Apalagi di saat yang hampir bersamaan, Rasulullah juga ditinggal wafat istrinya tercinta, Khadijah. Jadilah tahun itu sebagai tahun kesedihan bagi diri beiau.

Sahabatku, demikianlah Rasulullah Saw. Beliau dibesarkan ditengah keluarga yang penuh cinta kasih. Ini juga bagian dari takdir Allah. Rasulullah diasuh oleh Abu Thalib bukan Abu Lahab, padahal sama-sama pamannya. Abu Thalib dan Abu Lahab adalah dua pribadi yang berbeda jauh. Yang satu penuh cinta, sedangkan yang kedua penuh kebencian. 

Lantas, bagaimana dengan Rasulullah? Apakah beliau juga membina keluarganya dengan penuh cinta kasih? Apakah beliau juga mencintai dan menyayangi anak dan cucunya? Bagaimana hubungan beliau dengan anak-anak kecil disekitar beliau?

Rasulullah memiliki beberapa orang anak. Anak laki-laki beliau wafat di saat mereka masih bayi. Sedangkan anak-anak perempuan beliau tumbuh dewasa. Mereka semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Keimanan mereka menunjukkan betapa mereka sangat mengenal sosok dan pribadi Rasulullah. 

Berbeda dengan para Nabi palsu, di antara keluarga mereka ada yang tidak mau beriman bahkan mengingkari dan memusuhinya. Karena, mereka melihat ayah mereka yang mengaku menjadi Nabi tidaklah pantas menjadi seorang Nabi karena akhlaknya yang buruk. Ini adalah pemikiran yang logis. Mana ada seorang Nabi memiliki akhlak yang buruk dan tercela baik sesudah menjadi Nabi maupun sebelum menjadi Nabi? Oleh karena itu, ketika Rasulullah Saw. mengumpulkan kaum musyrikin Makkah di sebuah bukit dan mengatakan, "Apakah bila aku mengatakan bahwa musuh akan menyerang kita kalian akan mempercayai apa yang kukatakan?" Lantas orang-orang kafir Quraisy serentak mengatakan, "Kami percaya." Ya, karena orang-orang kafir Quraisy memang sudah lama mempercayai Rasulullah Saw. dalam hal integritas dan kejujuran. Sehingga mereka menjuluki Rasulullah dengan julukan Al-Amin

Rasulullah sangat menyayangi anak-anak kecil. Hasan dan Husein, cucu beliau, pernah menaiki punggung beliau saat sedang sujud shalat. Beliau membiarkan keduanya puas bermain di punggung beliau dengan tidak bangkit dari sujud. Rentang waktunya cukup lama hingga mereka lepas dari Rasulullah dan kemudian Rasulullah dapat bangkit dari sujudnya. Rasulullah merasa tak tega bila kedua cucunya itu terjatuh bila dirinya bangkit dari sujud sementara mereka tengah asyik bermain di punggungnya.

Pada suatu hari Nabi sedang berkhutbah, lalu Al-Hasan dan Al-Husain (yang masih kecil) datang memakai dua baju –mungkin baju baru-. Baju keduanya tersebut kepanjangan, sehingga keduanya tersandung-sandung jatuh bangun tatkala berjalan. Maka Nabipun turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dihadapan beliau (di atas mimbar) lalu beliau berkata: “Maha benar Allah…'Hanyalah harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah', aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya.” 

Rasulullah Saw. mempercepat shalatnya ketika mendengar ada bayi menangis. Beliau ingin mengetahui mengapa bayi itu menangis, menimang-nimangnya, dan membelainya agar berhenti menangis. Beliau tidak ingin membuat ibunya susah karena suara tangisan bayinya. Rasulullah juga pernah mencium seorang anak dari anak sahabatnya. Padahal sahabat tersebut mengakui belum pernah mencium anaknya yang berjumlah sepuluh. Lantas Rasulullah Saw. menegurnya dengan mengatakan,barangsiapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.

Dalam mengomentari hadits ini, Imam Ibnu Bathol berkata, "Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah Swt.."

Rasulullah pernah melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain, maka beliau mengucap salam kepada mereka seperti beliau mengucap salam kepada para sahabatnya. Pernah juga beliau menangis saat menggendong cucunya yang telah wafat. Lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah mengapa beliau meneteskan airmata. Padahal beliau adalah orang yang paling sabar dalam menghadapi musibah. Lantas beliau berkata,airmata ini adalah airmata kasih sayang. 

Begitulah akhlak dan teladan Rasulullah Saw. Beliau sangat memperhatikan anak-anak kecil disekitar beliau. Beliau kadang memberi nama bagi bayi yang baru lahir, mentahniknya, mengazani dan mengiqomatinya, mengakikahinya atau menghadiri undangan akikah anak sahabatnya, menggendongnya, bahkan beliau pernah dipipisi oleh seorang bayi dan beliau tidak marah. Justru orangtua bayi itulah yang marah karena rasa malu. Bekas pembantu Rasulullah, Anas bin Malik berkata, "Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah Saw."

Para ulama berlomba-lomba mengkaji dan menulis fikih tentang anak. Atau memasukkan pembahasan tentang anak dalam buku-buku mereka. Untuk melihat luar biasanya Rasulullah dalam mendidik anak. Berkat tarbiyah beliau,lahirlah anak-anak yang gagah berani seperti Hasan, Husein, Usamah, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas, dan sebagainya. Alangkah baiknya bila kita membaca buku Tarbiyatul Aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) 2 jilid karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan.  

Untuk mengenal Islam dan mengetahui apa itu Islam, seharusnya pandangan pertama kita tertuju pada Rasulullah Saw. Bukan pada yang lain. Karena Rasulullah Saw. adalah bukti pengejawantahan isi Al-Qur'an. Rasulullah adalah Al-Qur'an yang sedang berjalan. Sunnah beliau adalah bukti dari pemahaman beliau yang sempurna dan paripurna tentang Al-Qur'an. Beribadah sesuai dengan sunnah Rasul-Nya berbuahkan pahala. Begitupun bila kita berniat ber-ittiba kepada Rasulullah insya Allah berpahala, seperti memanjangkan janggut dan mencukur kumis bagi laki-laki, makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan, masuk wc dengan kaki kiri terlebih dahulu, keluar wc dengan kaki kanan, dan sebagainya.  

Berbeda bila kita mencontoh dan meneladani orang lain, belum tentu berpahala malah bisa menjadi dosa. Misalnya, berbuat kejahatan atau melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ketika kita melihat keburukan seorang muslim dan kemudian menganggap bahwa tingkah laku tersebut bagian dari ajaran Islam, itu adalah satu kesalahan yang fatal. 

Islam mengajarkan kita tentang keindahan hakiki, kedamaian hakiki, keselamatan hakiki, kasih sayang hakiki. Islam membesar bukan karena kekerasan atau dengan pedang karena kesetiaan dan pengorbanan tidak tumbuh dari sana tapi tumbuh dari dakwah yang penuh kebaikan, cinta kasih, dan kelembutan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah.