Kamis, 12 April 2012

Orang yang Mendapat Rahmat, Karunia, dan Petunjuk


فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (QS. an-Nisa [4]: 175).

Di dalam ayat ini terkandung dua pokok ajaran Islam jika kita ingin mendapat rahmat, karunia, dan petunjuk jalan yang lurus, yaitu: Beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada agama-Nya.

Iman kepada Allah artinya iman tanpa keragu-raguan bahwa Allah pemilik nama-nama yang agung (asmaul husna) dan apa yang terjadi di alam semesta ini sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki terjadi, maka terjadilah. Dan, jika Dia tidak menghendaki terjadi maka tidak akan terjadi selamanya.

Hanya Allah-lah yang memberi petunjuk kepada seseorang dan dengan petunjuk itu, tidak akan ada orang yang sanggup menyesatkannya. Dan Allah-lah yang menghinakan seseorang dan dengan kehinaan tersebut, tidak akan ada orang yang sanggup membuatnya mulia.

Oleh karena itu, berserah dirilah (bertawakal) kepada Allah dengan total. Bekerja dan beribadahlah sesuai dengan syariat yang diridhai-Nya. Jangan melanggar aturan-Nya karena berarti kemalangan yang besar. Allah telah menurunkan syariat-Nya, maka harus kita imani dengan penuh keyakinan yang tinggi. Bahwa Dia tidak memerintah dan melarang sesuatu kecuali perintah dan larangan itu untuk kebaikan kita sendiri.

Berpegang teguh pada agama-Nya berarti menjalankan syariat-Nya dengan penuh keikhlasan dan kontinyuitas. Dalam kondisi apa pun, suka atau duka, kaya atau miskin, sehat atau sakit, kita harus tetap berpegang teguh pada agama-Nya. Dalam kondisi sakit – misalnya – kita tetap melaksanakan shalat walaupun dengan cara berbaring. Dalam kondisi duka, kita bersabar dan tetap menjalankan syariat-Nya. Dan, dalam kondisi lapang tak lupa bersyukur. Kesempitan kita bukanlah jalan untuk semakin jauh dari-Nya, tetapi ia adalah jalan menuju doa yang lebih banyak dipanjatkan, ibadah yang lebih khusyu dijalankan, dan amal yang lebih banyak dikerjakan. Dengannya, kita mengharapkan pertolongan-Nya. Kesempitan, susah, dan duka adalah obat bagi hati yang sebelumnya terluka karena telah menjauh dari-Nya. Ia adalah pengingat bagi jiwa yang lalai agar segera kembali kepada-Nya, bersimpuh menghadap-Nya, memohon ampunan-Nya, mengharapkan pertolongan-Nya.

Yakinlah pertolongan Allah pasti akan datang, seperti Yunus As. yang ditelah ikan paus. Ia tidak bersedih, tetapi justru ia ingat Tuhannya. Ia ingat kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga peringatan itu terjadi. Dia berdoa, “La ilahailla anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimiin – Tiada Tuhan selain Engkau sesungguhnya aku adalah hamba yang zalim.” Dengan doa itu ia diselamatkan-Nya. Ia yakin bahwa Tuhannya mendengar doanya. Dengan berpegang teguh kepada-Nya, keluarlah Yunus As. dari perut ikan paus, seperti keluarnya kesulitan, kesedihan, dan penderitaan dalam diri manusia.

Jika engkau telah menjalankan syariat-Nya, lalu mengapa engkau ragu akan pertolongan-Nya. Janganlah engkau ragu! Keraguan adalah sebuah tanda masih melekatnya maksiat dalam dirimu dan hatimu masih dikuasai hawa nafsu. Yakinlah, amalkan apa yang diperintahkan-Nya dan jauhi apa yang dilarang-Nya, dengan sekuat tenagamu, niscaya Allah akan memberimu rahmat, karunia, dan petunjuk yang lurus untuk sampai kepada-Nya.