Rabu, 18 April 2012

Islam untuk Kemajuan Bangsa-Bangsa


Ketika bunuh membunuh bukan hal yang dilarang. Mengubur anak perempuan dan membiarkan hidup anak laki-laki tampaknya sudah menjadi adat kebiasaan. Seorang suami tidak memiliki batasan jumlah istri yang akan dinikahi. Masyarakat yang buta huruf. Dan keburukan-keburukan lainnya yang tampaknya melekat pada tradisi dan akhlak masyarakat pada saat itu. Ditengah gurun pasir yang tandus dan gersang serta masyarakat yang menyimpang itulah, Islam hadir memberikan harapan dan kemuliaan.

Jiwa yang gersang terasa sejuk kembali. Hilanglah kehausan. Dan tersebarlah cahaya petunjuk ditengah arus jahiliyah. Islam tidak membeda-bedakan warna kulit, suku-bangsa, dan bentuk fisik seseorang. Yang membuat manusia berbeda, antara satu dengan yang lainnya, hanyalah takwa. Seorang berkulit hitam dari negeri Afrika bisa saja lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang lebih tampan dan putih kulitnya. Sehingga perbudakan pun dihapuskan. Bilal dibebaskan dan menjadi wakil orang Afrika yang dijamin masuk surga. Beliau juga seorang muadzin pertama Rasulullah dan salah satu sahabat Nabi yang utama.

Islam juga menghentikan pembunuhan terhadap anak-anak perempuan, karena Allah menciptakan makhluk secara berpasang-pasangan. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan. Dalam hal pernikahan, Islam membatasi kaum Adam untuk hanya menikahi kaum Hawa maksimal empat orang saja. Bandingkan dengan umat-umat dan para Nabi sebelumnya. Diantara mereka ada yang memiliki istri hingga tiga ratus orang.

Begitu banyak solusi yang ditawarkan Islam kepada umat manusia dan tidak mungkin dapat disebut satu persatu disini. Namun setidaknya dapat kita bahas secara singkat solusi Islam atas tiga permasalahan yang kini sedang dihadapi bangsa kita.

Islam dan Pendidikan

Islam memberikan solusi untuk mengatasi kebodohan, yaitu dengan meningkatkan taraf pendidikan. Tentu masih kita ingat ayat pertama al-Quran yang diturunkan, yaitu "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu." Ayat ini seolah "menyindir" masyarakat pada saat itu yang buta huruf, untuk mulai membaca, membaca, dan membaca. Allah kemudian menerangkan dibanyak ayatnya, keutamaan-keutamaan membaca dan menuntut ilmu. Dalam firman-Nya, Allah menyebutkan bahwa hamba yang paling takut kepada-Nya hanyalah ulama (ahli ilmu). Ayat itu turun setelah Allah menerangkan syariat-Nya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta. Imam al-Ghazali juga berkata, bahwa kendala ilmu merupakan kendala bagi orang-orang yang ingin meniti jalan menuju Allah.

Rasulullah Saw. pernah membebaskan tawanan perang dengan syarat mau mengajarkan baca-tulis kepada kaum muslimin. Rasulullah Saw. bersabda, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Tidak tanggung-tanggung lagi, menuntut ilmu adalah wajib dan bukan sunah apalagi mubah. Rasulullah Saw. juga bersabda, menuntut ilmu dapat mempermudah jalan ke surga. Hadits-hadits seperti ini sangat banyak jumlahnya. Para ulama seperti Imam al-Ghazali, Imam Ibnul Qayyim, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, dan sebagainya, menulis satu buku tentang keutamaan ilmu. Dengan kenyataan ini, sudah seharusnya pemerintah dan kaum muslimin memperhatikan dan memprioritaskan permasalahan ini serta memberikan anggaran dana yang cukup. Karena dari sinilah, sebuah bangsa akan terangkat derajatnya.

Islam dan Persaudaraan

Islam telah berhasil mendamaikan dan mempersatukan suku Aus dan Khajraz yang telah berperang bertahun-tahun. Islam juga berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dengan Muhajirin. Islam berhasil menyatukan muslim dan non-muslim dalam satu kesepakatan yang dikenal dengan nama ”Piagam Madinah”. Islam memberikan jaminan keamanan bagi pemeluk agama lain. Jika ada seorang non-muslim dizalimi, Islam tetap akan menghukum orang yang menzaliminya meskipun dia muslim. Rasulullah Saw. pernah bersabda, seandainya putri beliau, Fatimah, mencuri, niscaya akan dipotong tangannya.

Islam mengajarkan bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan tujuan untuk saling mengenal (ta’aruf), sehingga kemudian terjalinlah ikatan persaudaraan antar sesama. Islam juga mengajarkan agar persaudaraan yang dijalin dilandasi keikhlasan bukan kamuflase ketakutan, kemunafikan, dan kedustaan.

Islam dan Perekonomian

Agar roda perekonomian terus berjalan dan seluruh masyarakat dapat menikmati hasilnya, Islam mengajarkan masyarakat untuk bekerja, bekerja apa saja yang penting halal. Jangan sampai kita menganggur, karena pengangguran dapat mendatangkan kerusakan. Bukankah terjadinya perjudian, penjualan narkoba, dan pencurian disebabkan oleh masyarakat yang menganggur? Imam Syafi’i pernah berkata, jika seseorang tidak disibukkan dengan kebaikan, akan disibukkan dengan kebatilan.

Ketika melihat seorang muslim tengah bekerja memecah batu dan membelah kayu, Rasulullah lantas mencium kedua tangan orang tersebut dan mengatakan bahwa Allah mencintai muslim yang bekerja. Allah tidak mengatakan bahwa hanya jenis pekerjaan tertentu yang dicintai-Nya. Ini harus digaris bawahi. Selagi pekerjaan itu halal, jangan sampai ada anggapan bahwa pekerjaan seperti kuli di pelabuhan atau tukang kayu itu hina.

Pemerintah seharusnya membuka kesempatan bekerja sebesar-besarnya kepada masyarakat, yaitu dengan meningkatkan lapangan pekerjaan dan investasi. Dan juga mengoptimalkan bantuan modal untuk pengusaha menengah ke bawah agar usahanya semakin berkembang. Pemerintah juga memberikan pelatihan-pelatihan ketrampilan secara gratis kepada masyarakat, khususnya orang-orang miskin yang memiliki tekad dan kemauan untuk berwirausaha.

Insya Allah, dengan menjalankan Islam secara baik dan berkesinambungan, bangsa kita yang sedang terpuruk ini dapat terangkat pada kemuliaan dan kejayaan, bahkan melebihi bangsa-bangsa Barat. Amin Ya Rabbal alamin.