Rabu, 07 Maret 2012

Mempelajari Ilmu Agama


Saya pernah bertanya dalam hati, mengapa umat Islam mengalami masa kemunduran? Saya berusaha menemukan jawabannya dari buku-buku sejarah Islam yang telah saya baca. Saya kemudian menarik kesimpulan dari buku-buku itu. Kenyataannya adalah, kejayaan umat Islam di masa lalu terjadi karena ilmu yang mereka miliki. Ilmu adalah cahaya dunia dan akhirat. Dengan ilmu-lah harkat dan derajat manusia terangkat.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa mereka terdorong untuk mempelajari ilmu pengetahuan? Ternyata jawabannya adalah “agama”. Agama-lah yang memberikan banyak keutamaan di seputar ilmu. Pada akhirnya mereka begitu sangat rajin membaca, menulis, dan mengikuti majelis ilmu. Hampir di setiap rumah, di masa itu, memiliki sebuah perpustakaan. Istilah-istilah ilmiah pun banyak di ambil dari perbendaharaan kata agama. Istilah Mizan, misalnya, dalam pemikiran sains Jabir bin Hayyan bisa merupakan istilah specific-grafvity (sp-gr) atau “berat jenis” yang mengacu pada konsep Archimedes, bisa juga sebagai ukuran dalam suatu campuran zat dalam ilmu kimia, dan bisa juga sebuah istilah yang berasal dari penjelasan allegoris (ta’wil) referensi-referensi Qur’ani mengenai penimbangan di hari Kiamat. Artinya, Jabir bin Hayyan – yang disebut-sebut sebagai pendiri laboratorium kimia pertama – telah menghubungkan sistem ilmiahnya dengan ajaran agama.

Pertanyaan dan jawaban di atas bisa kita jadikan renungan pada saat ini. Saya pernah berkata kepada salah seorang sahabat saya, insinyur lulusan Singapura, agar kita kembali mempelajari ilmu agama dengan lebih mendalam. Karena selama ini, saya melihat, ajaran Islam hanya di pelajari pada masalah-masalah seputar shalat atau masalah-masalah khilafiyah (seperti qunut atau tidak qunut) saja. Padahal masalah-masalah lain juga memiliki eksistensinya dalam ajaran Islam. Karena sifat Islam adalah syumul (menyeluruh). Jika umat tidak mengambil secara menyeluruh dari ajaran agamanya sendiri, toh pada akhirnya nanti umat Islam tidak memakai “bajunya” sendiri. Kalau belum apa-apa sudah meributkan masalah khilafiyah, kita tidak akan maju-maju. Sehingga sebagian dari umat ini cenderung sinis dengan ajaran agamanya sendiri.

Mungkin yang menjadi prioritas utama pada saat ini adalah mempelajari dasar-dasar agama bagi setiap muslim. Karena kita ketahui sendiri, ajaran Islam itu begitu luas dan usia kita tidak mungkin cukup untuk mempelajari semuanya. Lagi pula tidak semua orang berminat menjadi ahli ilmu agama. Bagian-bagian pokok dari agama yang harus kita pelajari – meminjam teori Imam Ibnu al-Jauzy – berkaitan dengan keyakinan (aqidah), perbuatan dan apa yang harus ditinggalkan.

Jika seorang anak sudah beranjak besar, maka pertama-tama yang harus dia pelajari adalah dua kalimat syahadat dan memahami maknanya sekalipun pemahaman ini tidak harus dengan penelaahan dan penyertaan dalil. Sebab Nabi Saw. hanya meminta pembenaran dari orang-orang Arab yang bodoh, tanpa menuntut mereka untuk mempelajari dalil. Tapi yang pasti hal ini hanya dikaitkan dengan waktu alias temporal. Setelah itu dia tetap dituntut untuk menelaah dan mengetahui dalil.

Jika sudah tiba waktunya untuk mendirikan shalat, maka dia harus mengetahui cara bersuci dan shalat. Jika tiba bulan Ramadhan, dia harus mempelajari puasa. Jika dia mempunyai harta benda dan waktunya sudah mencapai satu tahun, maka dia harus mempelajari masalah zakat. Jika tiba musim haji dan memungkinkan baginya untuk pergi berhaji, maka dia harus mempelajari manasik haji dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan haji.

Tentang hal yang harus ditinggalkan, maka tergantung kondisinya. Sebab tidak mungkin orang yang buta bisa mempelajari apa yang tidak mungkin dia lihat, dan orang bisu tidak mungkin bisa mengucapkan apa yang memang tidak bisa dia ucapkan. Jika di suatu negara ada kebiasaan minum khamr dan mengenakan pakaian sutra, maka dia wajib mengetahui pengharaman dua hal ini.

Tentang keyakinan, maka harus diketahui dan dipelajari berdasarkan sentuhan rasa. Jika terbetik suatu perasaan yang meragukan makna-makna yang ditunjukkan dua kalimat syahadat, maka dia harus mengetahui apa yang membuatnya bisa mengenyahkan keragu-raguan itu. Jika dia berada di suatu negeri yang banyak bid’ahnya, maka dia harus mencari mana yang haq. Sebagaimana seorang pedagang yang di sekitarnya melakukan praktek riba, maka dia harus mempelajari bagaimana cara mewaspadai praktek riba itu.

Dari penjelasan ini, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “mencari ilmu itu fardhu (wajib) atas setiap muslim” adalah yang termasuk dalam fardhu ain, atau apa yang memang berkait dengan diri seseorang.

Bahwa seorang muslim belum pernah membaca al-Quran atau hadits, itu hal yang aneh. Atau ia hanya mengetahui masalah shalat saja, seperti bacaan-bacaannya atau jumlah rakaatnya, sementara masalah lain tidak ia ketahui. Misalnya seorang muslim membaca hadits Nabi yang berbunyi, “Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu, karena ridha terhadap apa yang dicarinya.”

Menurut al-Khaththaby, meletakkan sayap di sini ada tiga pengertian: Pertama, bisa berarti membentangkan sayap. Kedua, bisa berarti merendahkan dan menundukkannya, karena hendak menyampaikan hormat kepada orang yang mempelajari ilmu. Ketiga, malaikat itu sendiri turun ke majelis ilmu, menunggui dan tidak terbang dari sana.

Seorang muslim yang membaca keterangan ini, tentu hatinya terlecut untuk menuntut ilmu. Dirinya menjadi rajin membaca karena merasa pada saat itu malaikat sedang berada di sisinya, membentangkan sayap untuknya sebagai penghormatan kepadanya. Ia menjadi bersemangat dan antusias dalam membaca, karena dalam keadaan seperti itulah, malaikat akan melindungi dan menjaganya. Seorang muslim hendaknya meyakini hal ini dengan sepenuh hatinya.

Begitu banyak ayat al-Quran dan hadits yang berbicara tentang keutamaan ilmu. Apabila kita membaca dan mentafakurinya, tentu semangat kita dalam menuntut ilmu akan jauh lebih besar dari sebelumnya. Siapa yang tidak mengetahui masalah ini, tentu menjadi orang yang merugi. Di depannya ada banyak petunjuk, namun dia terhalang untuk melihatnya.